Wall Street Kebakaran, Bursa Asia Dibuka Merana Lagi

Berita, Teknologi700 Dilihat

Jakarta, CNBC IndonesiaBursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Kamis (7/9/2023), jelang rilis data neraca perdagangan di Australia dan China.

Per pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang turun tipis 0,02%, Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite China melemah 0,38%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,41%, ASX 200 Australia merosot 0,91%, serta KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,75%.

Pada hari ini, data neraca perdagangan periode Juli 2023 di Australia dan periode Agustus 2023 di China akan dirilis. Di Australia, neraca perdagangannya diperkirakan melandai menjadi A$ 10 miliar, dari sebelumnya sebesar A$ 11,32 miliar pada Juni lalu.

Sementara di China, Impor dan ekspor pada Agustus diperkirakan turun masing-masing sebesar 9,2% dan 9% (year-on-year/yoy), menurut survei para ekonom oleh Reuters, yang lebih kecil dari penurunan sebesar 14,5% dan 12,4% pada bulan Juli.

Sebelumnya, aktivitas pabrik China menyusut selama lima bulan berturut-turut pada Agustus, terbebani oleh kurangnya pesanan ekspor baru dan suku cadang impor, meskipun pemilik pabrik mengindikasikan harga produsen telah membaik untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir, sebagai tanda peningkatan permintaan domestik.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah menyusul kembali bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kemarin, yang juga ditutup di zona merah.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah 0,57%, S&P 500 terkoreksi 0,7%, dan indeks Nasdaq Composite ambles 1,06%.

Bursa Wall Street ambruk setelah data-data ekonomi AS menunjukkan perbaikan. ISM Services PMI yang mengukur aktivitas bisnis non-manufaktur melonjak ke 54,5 pada Agustus. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 52,7 pada Juli serta di atas ekspektasi pasar yakni 52,5.

Baca Juga  Kata Bos OJK Soal Ekonomi China Melambat Hingga BPR Bangkrut

ISM Services Prices juga naik menjadi 58,9 pada Agustus dari 56,8 pada Juli. Artinya, ongkos biaya pada Agustus meningkat cukup signifikan.

ISM Services yang menguat menandai ekonomi AS masih kencang sehingga inflasi bisa sulit ditekan ke depan.

Kondisi ini membuat pelaku pasar berekspektasi jika bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mempertahankan sikap hawkish-nya.

Ekspektasi pasar tercermin jelas melalui CME FEdwatch, kenaikan dolar AS, serta menguatnya imbal hasil (yield) US Treasury.

Perangkat CME Fedwatch menunjukkan 93% investor yakin The Fed akan menahan suku bunga acuan di 5,25%-5,5% dalam pertemuan September. Sebanyak 7% memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp).

Sedangkan indeks dolar melesat ke 104,85 kemarin, posisi tertingginya sejak 9 Maret 2023 atau enam bulan terakhir. Sementara itu, yield US Treasury 10 tahun terbang ke 4,29% kemarin, posisi tertingginya sejak 22 Agustus lalu.

Ekspektasi masih hawkish-nya The Fed pun membuat saham teknologi jatuh. Saham Nvidia dan Apple ambruk lebih dari 3% sementara Apple turun sekitar 2%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bursa Asia Dibuka Loyo, IHSG Bakal Pesta Sendirian Lagi?

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *