Wahana Jembatan Kaca Dinilai Tak Sesuai Prinsip Wisata Lingkungan

Berita, Teknologi591 Dilihat


Banyumas: Pengamat Pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) meminta pemerintah mempertimbangkan kembali pembangunan wahana jembatan kaca setelah peristiwa jatuhnya wisatawan di The Geong Limpakuwus, Banyumas, Jawa Tengah.

Selain kontruksi yang dinilai tidak aman, wanaha tersebut juga tidak sesuai dengan prinsip pariwisata yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

“Pemerintah sebaiknya perlu mempertimbangkan kembali pembangunan jenis wahana wisata seperti ini,” kata Chusmeru, Kamis, 26 Oktober 2023.

Menurutnya, peristiwa jatuhnya wisatawan dari jembatan kaca tersebut dapat dijadikan pelajaran bagi para pemangku kebijakan sektor pariwisata. Pengelola wahana wisata dan wisatawan yang berkunjung, kata dia, perlu memperhatikan 3 hal, yaitu keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.
 


“Wahana semacam itu sangat berpotensi terjadinya kecelakaan. Keamanan dan keselamatan wisatawan menjadi prioritas agar nyaman dalam berwisata,” ujarnya.

Di sisi pemerintah, kata dia, perlu dipertimbangkan kembali pembangunan jenis wahana wisata seperti itu. Selain sangat beresiko terhadap faktor keamanan, banyak jembatan kaca di berbagai objek wisata alam, menurutnya, justru menimbulkan distorsi visual sehingga objek wisata alam kehilangan pemandangan yang indah dengan adanya jembatan kaca itu.

“Dari perspektif ekologis, jembatan kaca sangat tidak sesuai dengan prinsip eco-tousrism dan berkelanjutan,” ujarnya.

Peristiwa jatuhnya wisatawan di wahana jembatan kaca objek wisata The Geong Limpakuwus, kawasan Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah terjadi pada Rabu, 25 Oktober 2023. Dua orang wisatawan yang jatuh itu berjenis kelamin perempuan, yakni berinisial AI, 41, mengalami luka-luka dan FA, 49, dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter.

Banyumas: Pengamat Pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) meminta pemerintah mempertimbangkan kembali pembangunan wahana jembatan kaca setelah peristiwa jatuhnya wisatawan di The Geong Limpakuwus, Banyumas, Jawa Tengah.
 
Selain kontruksi yang dinilai tidak aman, wanaha tersebut juga tidak sesuai dengan prinsip pariwisata yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
 
“Pemerintah sebaiknya perlu mempertimbangkan kembali pembangunan jenis wahana wisata seperti ini,” kata Chusmeru, Kamis, 26 Oktober 2023.

Baca Juga  Tarik Utang Baru, Pemerintah Terbitkan Global Sukuk



Menurutnya, peristiwa jatuhnya wisatawan dari jembatan kaca tersebut dapat dijadikan pelajaran bagi para pemangku kebijakan sektor pariwisata. Pengelola wahana wisata dan wisatawan yang berkunjung, kata dia, perlu memperhatikan 3 hal, yaitu keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.
 

“Wahana semacam itu sangat berpotensi terjadinya kecelakaan. Keamanan dan keselamatan wisatawan menjadi prioritas agar nyaman dalam berwisata,” ujarnya.
 
Di sisi pemerintah, kata dia, perlu dipertimbangkan kembali pembangunan jenis wahana wisata seperti itu. Selain sangat beresiko terhadap faktor keamanan, banyak jembatan kaca di berbagai objek wisata alam, menurutnya, justru menimbulkan distorsi visual sehingga objek wisata alam kehilangan pemandangan yang indah dengan adanya jembatan kaca itu.
 
“Dari perspektif ekologis, jembatan kaca sangat tidak sesuai dengan prinsip eco-tousrism dan berkelanjutan,” ujarnya.
 
Peristiwa jatuhnya wisatawan di wahana jembatan kaca objek wisata The Geong Limpakuwus, kawasan Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah terjadi pada Rabu, 25 Oktober 2023. Dua orang wisatawan yang jatuh itu berjenis kelamin perempuan, yakni berinisial AI, 41, mengalami luka-luka dan FA, 49, dinyatakan meninggal dunia oleh tim dokter.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

(WHS)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *