Tips Terbebas dari Jeratan Pinjol

Berita, Teknologi572 Dilihat

Jakarta: Hidup dalam kesederhanaan di tengah arus gaya hidup modern masyarakat urban yang penuh tekanan, godaan, dan tuntutan untuk mengejar standar hidup tertentu memang sangat menantang untuk dijalankan. 
 
Apalagi godaan terbesar adalah serangan konsumerisme di kalangan kaum muda untuk membeli berbagai macam hal yang disediakan di pasaran. 
 
Keputusan untuk berbelanja pun lebih didorong oleh keinginan, dan bukan lagi atas dasar kebutuhan. Bahkan dalam perlombaan gaya hidup masyarakat urban, batas antara keinginan dan kebutuhan menjadi makin transparan lantaran persaingan antarkelas sosial begitu dinamis, yang memacu setiap orang untuk terus mengejar standar hidup tertentu. 
 
Fenomena ini terjadi karena faktor digitalisasi dan paparan media sosial. Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk mindset, opini dan lifestyle. Inilah yang membuat sebagian besar orang berpikir untuk menyesuaikan standar yang terlihat di media sosial. 
 

 
Disamping itu, kehadiran metode pembayaran cicilan kartu kredit atau paylater maupun platform pinjaman online (pinjol) yang semakin marak dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Hanya dengan waktu kurang dari 24 jam, dana pinjol bisa cair ke tangan nasabah. Inilah yang membuat semakin banyak pula orang yang mengandalkan pinjol untuk utang konsumtif tanpa memperhitungkan risiko jangka panjangnya.

Faktor masyarakat ambil pinjol 

Faktor lain yang juga menjadi alasan utama orang melakukan pinjol yaitu karena membutuhkan dana cair lebih cepat. Hasil survey NoLimit Indonesia yang dilakukan selama periode 11 September – 15 November 2021 bertajuk Perkembangan Isu Pinjaman Online di Media Sosial membuktikan bahwa hampir 1.500 orang Indonesia melakukan pinjol untuk menutup utang lain atau biasa disebut dengan gali lubang tutup lubang dan sekitar 500 orang karena faktor ekonomi menengah kebawah.
 
Dalam kondisi terdesak seperti ini, banyak masyarakat yang akhirnya mencari jalan pintas dan belum bisa membedakan pinjol yang legal maupun illegal dan terjebak dalam kondisi gagal bayar. Bahkan berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan untuk pengaduan periode 1 Januari sampai dengan Agustus 2023, pengguna pinjol illegal itu paling banyak karyawan swasta.
 
Terkait dengan kondisi tersebut, Head Investment Communications Allianz Indonesia Meta Lakhsmi PD, mengingatkan risiko yang lebih besar jika terjerat pinjol. 
 
“Banyak yang tidak menyadari ketika terjerat atau terjadi gagal bayar Pinjol, risiko yang lebih besar sebenarnya sudah menanti di depan. Beberapa contoh risikonya adalah memberatkan tujuan finansial keluarga atau penolakan pengajuan KPR,” kata Meta dalam keterangan tertulis, Sabtu, 28 Oktober 2023.
 
Meta membagikan beberapa tips yang perlu dilakukan sebelum mengambil pinjaman online diantaranya perlu memahami kondisi finansialnya dengan menjaga spending habit, melunasi hutang-hutang yang masih ada, dan memastikan dana darurat tersedia. 
 
Lebih lanjut, apabila berhutang menjadi jalan satu-satunya untuk membantu kondisi keuangan, pastikan bahwa total hutang maksimal 30 persen dari total aset, selain itu perlu dilakukan perhitungan simulasi bunga pinjaman, khususnya untuk Pinjol yang kurang transparan, serta cek ijin usaha Pinjol, apakah sudah terdaftar di OJK. 
 
“Jangan lupa juga untuk cek skor kredit di SLIK OJK juga secara berkala untuk memastikan riwayat kredit kita di masa lalu sudah selesai dan tidak akan berpotensi untuk menimbulkan masalah di kemudian hari,” ucap Meta.
 
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

Baca Juga  Kebakaran Ponpes Gontor di Aceh Besar Berawal dari Pemadaman Listrik

(ANN)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *