Ternyata Begini Cara AdaKami Gerakkan 400 Debt Collectornya

Berita, Teknologi613 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Penyedia layanan pinjol AdaKami, PT Pembiayaan Digital Indonesia mengklaim memiliki penagih utang macet kurang lebih 400 orang. Ini belum termasuk debt collector eksternal.

“AdaKami ada 400 sekian debt collector, kita melakukan collection internal 80%-90% oleh debt collector kita. Kita juga ada vendor pihak ketiga yang dipekerjakan untuk melengkapi seluruh tim collecting,” ujar Direktur Utama AdaKami, Bernardino Moningka Vega beberapa waktu lalu.

Perlakuan debt collector AdaKami jadi sorotan usai para nasabahnya mengadukan cara penagihan utang pinjol ke aplikasi X atau dahulunya Twitter. Dalam keterangannya, beberapa korban mengaku diteror hingga ditelepon ke kantor dan dikirimkan makanan melalui order fiktif di aplikasi ojek online.

Terbaru, AdaKami mendata setidaknya ada 36 aduan nasabah terkait proses penagihan yang menyalahi aturan. Tak hanya pemesanan ojek online, dari laporan tersebut diketahui para penagih utang tega memanggil pemadam kebakaran, ambulans dan jasa sedot WC ke alamat peminjam.

Akibatnya, manajemen AdaKami akan mengambil tindakan tegas berupa pemberian sanksi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap agen penagihan yang dimaksud, disertai dengan memastikan agen-agen yang dimaksud masuk ke dalam daftar hitam atau black list profesi penagihan AFPI. Apabila terbukti terdapat unsur pelanggaran hukum, oknum tersebut akan segera ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Berkaca dari insiden ini, AdaKami menekankan kepada seluruh pihak terkait untuk tunduk dan patuh pada standard operating procedure (SOP) yang berlaku, dan seluruh bentuk pelanggaran akan ditindak secara tegas.

SOP Debt Collector Pinjol

Dalam kesempatan terpisah, Bernardino sempat menjelaskan bagaimana SOP atau cara kerja debt collector di perusahaan pinjol. Dia menjelaskan seharusnya peringatan membayar tidak menggunakan kekerasan.

Baca Juga  Tak Kuat Modal, 10 Asuransi Tak Lanjutkan Usaha Syariah

“Di AdaKami atau platform lain yang kami lakukan adalah membagi di bucket-bucket, misalnya 1-10 hari masuk di kelompok A, B, dan seterusnya ada pengelompokan, di dalam dialog yang dilakukan dengan nasabah itu biasanya kami taruh di screen dan batas-batas yang akan dibicarakan,” ujarnya.

Dalam tampilan layar tersebut, Bernardino mengklaim informasi tentang nasabah itu sangat minim, bahkan nomor telepon nasabah tidak ketahuan. Sehingga debt collector tinggal menekan tombol dan langsung keluar panggilan dengan nasabah. Nomor yang ditelepon itu tercatat, sehingga pihaknya tahu itu dari DC-nya atau tidak.

“Kalau itu terverifikasi (pelanggarannya), kami akan tindak, dan tingkat pelanggaran itu sudah SOP apakah sanksinya SP 1, 2 atau 3,” tandasnya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Teror Pinjol Diduga Bikin Bunuh Diri, Adakami Buka Suara

(mkh/mkh)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *