Temu Seni Fotografi di Larantuka Perkuat Ekosistem Seni dan Budaya

Berita, Teknologi514 Dilihat


Larantuka: Temu Seni Fotografi 2023 sejak 17-23 Oktober di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mempertemukan fotografer muda se-Indonesia. Mereka terlibat dalam presentasi riset, pertukaran metode, sarasehan, kunjungan budaya maupun situs, dan pameran karya.

Temu Seni Fotografi 2023 digelar Direktorat Perfilman, Musik, dan Media di bawah arahan Direktur Artistik, Melati Suryodarmo, dengan mengambil tema “Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan”.

Kegiatan ini menjadi wujud semangat pergerakan budaya melalui pemanfaatan pengetahuan warisan cagar budaya sejak masa prasejarah hingga masa Majapahit abad ke-15 dan Warisan Budaya Tak benda yang diakui UNESCO.

Direktur Perfilman, Musik, dan Media, Ahmad Mahendra, menuturkan pemerintah berkomitmen untuk selalu berupaya membuka serta memberikan ruang berkarya kepada para generasi muda dalam memperkuat ekosistem seni.
 


Mahendra mengatakan, pemerintah berkomitmen membantu penyerbarluasan ide dan karya dari para fotografer muda agar makin terpacu menggali potensi diri maupun inspirasi sehingga tidak pernah berhenti untuk pemajuan kebudayaan.

“Pemajuan kebudayaan dan memperkokoh ekosistem seni perlu dilakukan dengan cara yang sesuai perkembangan zamannya, seperti saat ini era teknologi digital. Dengan begitu maka segala bentuk karya seni yang dilahirkan akan terus diminati publik,” ujar Mahendra, Rabu, 25 Oktober 2023.

Selama sepekan Temu Seni Fotografi 2023 di Larantuka, para peserta fotografer saling bertukar gagasan dan pemikiran sehingga kesempatan ini menjadi laboratorium ilmu dengan beragam latar belakang. Aktivitas tersebut difasilitasi oleh Samuel Rama Surya dan Wimo Ambala Bayang yang berpengalaman dalam seni fotografi kontemporer.

Peserta Temu Seni Fotografi 2023 juga diajak berkunjung ke Desa Ilepadung dan Bantala, Lewolema, untuk berinteraksi dengan masyarakat adat sehingga mengenal bagaimana cara hidup dan kearifan lokal yang semakin relevan di era krisis iklim. 

Selain kedua desa tersebut, peserta juga menyambangi lokasi bersejarah di Bero Tuan Meninu, Kapela Tuan Ma, dan Merang Raja, sebagai fondasi pembentuk identitas Larantuka. Kemudian pula mengunjungi Kota Sau sebagai Kota Melayu untuk menyaksikan pembuatan belutu (atau bubu) yakni alat menangkap ikan agar memberi pemahaman ke peserta tentang percampuran masyarakat Larantuka dengan pendatang di masa lalu.

“Segala rangkaian kegiatan bertujuan untuk membuka cakrawala wawasan ke peserta Temu Seni Fotografi 2023 dari berbagai latar belakang aspek nilai budaya. Nantinya dapat menjadi ajang diskusi untuk dikembangkan dalam bentuk karya yang modern supaya tidak terjadi krisis seni,” ucap Mahendra.

Selanjutnya pada Minggu, 22 Oktober dilaksanakan sarasehan antarpeserta bersama narasumber seniman penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2023, Moelyono, untuk memperkaya perspektif tentang rumah adat sebagai pusat kebudayaan lokal yang dapat berfungsi untuk menanggapi isu sosial dan lingkungan. 

Begitu juga ketika berdiskusi dengan tokoh pendidikan Bernardus Tukan, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya kaum muda untuk menemukan diri sendiri yang berakar pada sejarah masyarakatnya. 

Presentasi publik sekaligus pameran seni foto diselenggarakan di Radio Siaran Pemerintah Daerah Flores Timur. Dalam kegiatan tersebut peserta menampilkan karya dalam proses (work in progress) yang dihasilkan selama proses Temu Seni Fotografi 2023 dan dikembalikan lagi ke mereka untuk dikembangkan pada masa mendatang.
 
Sementara itu, SimpaSio Institute sebagai komunitas tuan rumah menambah cakrawala pengetahuan peserta mengenai sejarah budaya Larantuka, sebuah kota yang patut diperhatikan dalam konteks kebinekaan Indonesia.

Temu Seni Fotografi 2023 dilaksanakan sebagai kegiatan pendahulu menuju Festival Indonesia Bertutur 2024 sekaligus menjadi bagian dari rangkaian lima Temu Seni yang mencakup bidang tari, performance, teater monolog, fotografi, dan musik. 

Nantinya Festival Indonesia Bertutur 2024 akan mengangkat tema Subak Bali dan akan menggali filosofi serta prinsip dan nilai dari itu sebagai sumber inspirasi bagi kerangka pemikiran dan konsep kegiatan.

Baca Juga  Terkuak, Ini Penyebab Laba Asuransi Tugu (TUGU) Melonjak 281%

Larantuka: Temu Seni Fotografi 2023 sejak 17-23 Oktober di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mempertemukan fotografer muda se-Indonesia. Mereka terlibat dalam presentasi riset, pertukaran metode, sarasehan, kunjungan budaya maupun situs, dan pameran karya.
 
Temu Seni Fotografi 2023 digelar Direktorat Perfilman, Musik, dan Media di bawah arahan Direktur Artistik, Melati Suryodarmo, dengan mengambil tema “Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan”.
 
Kegiatan ini menjadi wujud semangat pergerakan budaya melalui pemanfaatan pengetahuan warisan cagar budaya sejak masa prasejarah hingga masa Majapahit abad ke-15 dan Warisan Budaya Tak benda yang diakui UNESCO.



Direktur Perfilman, Musik, dan Media, Ahmad Mahendra, menuturkan pemerintah berkomitmen untuk selalu berupaya membuka serta memberikan ruang berkarya kepada para generasi muda dalam memperkuat ekosistem seni.
 

Mahendra mengatakan, pemerintah berkomitmen membantu penyerbarluasan ide dan karya dari para fotografer muda agar makin terpacu menggali potensi diri maupun inspirasi sehingga tidak pernah berhenti untuk pemajuan kebudayaan.
 
“Pemajuan kebudayaan dan memperkokoh ekosistem seni perlu dilakukan dengan cara yang sesuai perkembangan zamannya, seperti saat ini era teknologi digital. Dengan begitu maka segala bentuk karya seni yang dilahirkan akan terus diminati publik,” ujar Mahendra, Rabu, 25 Oktober 2023.
 
Selama sepekan Temu Seni Fotografi 2023 di Larantuka, para peserta fotografer saling bertukar gagasan dan pemikiran sehingga kesempatan ini menjadi laboratorium ilmu dengan beragam latar belakang. Aktivitas tersebut difasilitasi oleh Samuel Rama Surya dan Wimo Ambala Bayang yang berpengalaman dalam seni fotografi kontemporer.
 
Peserta Temu Seni Fotografi 2023 juga diajak berkunjung ke Desa Ilepadung dan Bantala, Lewolema, untuk berinteraksi dengan masyarakat adat sehingga mengenal bagaimana cara hidup dan kearifan lokal yang semakin relevan di era krisis iklim. 
 
Selain kedua desa tersebut, peserta juga menyambangi lokasi bersejarah di Bero Tuan Meninu, Kapela Tuan Ma, dan Merang Raja, sebagai fondasi pembentuk identitas Larantuka. Kemudian pula mengunjungi Kota Sau sebagai Kota Melayu untuk menyaksikan pembuatan belutu (atau bubu) yakni alat menangkap ikan agar memberi pemahaman ke peserta tentang percampuran masyarakat Larantuka dengan pendatang di masa lalu.
 
“Segala rangkaian kegiatan bertujuan untuk membuka cakrawala wawasan ke peserta Temu Seni Fotografi 2023 dari berbagai latar belakang aspek nilai budaya. Nantinya dapat menjadi ajang diskusi untuk dikembangkan dalam bentuk karya yang modern supaya tidak terjadi krisis seni,” ucap Mahendra.
 
Selanjutnya pada Minggu, 22 Oktober dilaksanakan sarasehan antarpeserta bersama narasumber seniman penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2023, Moelyono, untuk memperkaya perspektif tentang rumah adat sebagai pusat kebudayaan lokal yang dapat berfungsi untuk menanggapi isu sosial dan lingkungan. 
 
Begitu juga ketika berdiskusi dengan tokoh pendidikan Bernardus Tukan, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya kaum muda untuk menemukan diri sendiri yang berakar pada sejarah masyarakatnya. 
 
Presentasi publik sekaligus pameran seni foto diselenggarakan di Radio Siaran Pemerintah Daerah Flores Timur. Dalam kegiatan tersebut peserta menampilkan karya dalam proses (work in progress) yang dihasilkan selama proses Temu Seni Fotografi 2023 dan dikembalikan lagi ke mereka untuk dikembangkan pada masa mendatang.
 
Sementara itu, SimpaSio Institute sebagai komunitas tuan rumah menambah cakrawala pengetahuan peserta mengenai sejarah budaya Larantuka, sebuah kota yang patut diperhatikan dalam konteks kebinekaan Indonesia.
 
Temu Seni Fotografi 2023 dilaksanakan sebagai kegiatan pendahulu menuju Festival Indonesia Bertutur 2024 sekaligus menjadi bagian dari rangkaian lima Temu Seni yang mencakup bidang tari, performance, teater monolog, fotografi, dan musik. 
 
Nantinya Festival Indonesia Bertutur 2024 akan mengangkat tema Subak Bali dan akan menggali filosofi serta prinsip dan nilai dari itu sebagai sumber inspirasi bagi kerangka pemikiran dan konsep kegiatan.

Baca Juga  BI Catat Uang Beredar di RI Saat Pilpres 2024 Tembus Rp 8.739,6 T

 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

(WHS)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *