Sektor Perdagangan RI Tangguh saat PDB ASEAN Diramal Melemah

Berita, Teknologi705 Dilihat

Jakarta: Indonesia dinilai mempunyai ketahanan sektor perdagangan yang kuat meski Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memprediksi pertumbuhan PDB ASEAN melemah menjadi 4,2 pada tahun 2023.
 
“Kita punya ketahanan, kita punya kebijakan dan kita punya instrumen itu dengan ketahanan perdagangan kita yang kondusif,” kata Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga usai menjadi pembicara pada ASEAN Investment Forum Day 2 di Jakarta, dilansir Antara, Senin, 4 September 2023.
 
Ia menjelaskan, perekonomian Indonesia relatif tinggi dan stabil dibandingkan negara-negara lain dengan pertumbuhan ekonomi berkisar 4-5 persen dan inflasi di bawah 4 persen. Bahkan, nilai ekspor perdagangan pada Juli mencapai dengan USD20,88 miliar.
 
Melalui ketahanan perdagangan yang telah terbukti cukup tangguh dan tetap tumbuh meski di masa pandemi covid-19, ia yakin Indonesia melalui Keketuaan ASEAN mampu menggunakan kinerja baik perekonomian tersebut untuk melihatkan kepada negara lain bahwa kinerja ASEAN bersifat konkrit.
 

 
“Ini contoh bagaimana kita bisa ke depan proyeksinya. Saya yakin kita akan semakin maju, semakin meningkat, berkembang dan sejalan dengan itu ekonominya akan meningkat,” jelas dia.
 
Untuk ASEAN, Jerry menilai perekonomian ASEAN dapat dipercaya sebagaimana terlihat dari ketertarikan negara-negara seperti Australia, New Zealand, Jepang, Korea dan Tiongkok yang sangat tertarik untuk menjadi bagian komunitas besar ASEAN diberbagai bidang termasuk hubungan dagang dan investasi.
 
“Belum lagi kita punya negara di luar itu seperti Amerika Serikat, Inggris yang mungkin memang secara semangat itu juga memiliki objektif yang sama untuk memastikan hubungan bilateral sesama ASEAN dan juga regional dengan ASEAN akan semakin lebih maksimal,” tutur dia.
 
Adapun Director of OECD Development Centre Ragnheiður Elín Árnadóttir dalam ASEAN Business and Investment Summit mengatakan pertumbuhan PDB di ASEAN akan melemah mencapai 4,2 persen pada tahun 2023 ini.
 
Salah satu penyebabnya adalah penurunan permintaan eksternal yang terus berlanjut dan ekspor mengalami kontraksi di tengah perlambatan yang berkepanjangan di negara-negara maju.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

Baca Juga  Bos BI Ramal Rupiah Akan Menguat Rp15.800, Kapan Nih?

(ANN)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *