Rupiah Tembus Rp 15.630, BI Siapkan Senjata Ini

Berita, Teknologi145 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susianto menegaskan pelemahan rupiah merupakan efek dari sentimen global yang kurang mendukung mata uang Garuda.

Pada perdagangan kemarin Selasa (3/10/2023) rupiah berakhir melemah 0,32% ke posisi Rp 15.575/US$ terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 
Dilansir dari Refinitiv, pagi ini, rupiah telah menembus level psikologis Rp15.600/US$ dan bahkan menyentuh angka Rp15.630/US$ atau melemah 0,35%.

Edi menuturkan BI akan terus berada di pasar untuk memastikan keseimbangan pasokan dan permintaan rupiah dan dolar di pasar tetap terjaga.

“Di pasar SBN kami terus cermati perkembangannya, langkah-langkah untuk menjaga stabilitas di pasar SBN apabila diperlukan tetap terbuka. So far pergerakan yield SBN masih manageable,” tegasnya.

Imbal hasil SBN tenor 10 tahun telah terbang ke 7,02% yang merupakan level tertingginya sejak November 2022 atau 10 bulan terakhir. Tingginya imbal hasil SBN mengikuti lonjakan pada imbal hasil US Treasury yang meningkat tajam akibat sentimen the Fed yang hawkish.

Dalam menghadapi guncangan nilai tukar, BI selalu mengeluarkan 3 senjata andalan alias triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Namun, BI kali ini mengeluarkan dua kebijakan yang diyakini dapat menopang pergerakan rupiah.

1. Aturan DHE

Pemerintah juga telah merevisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) berlaku efektif 1 Agustus 2023, termasuk dengan mewajibkan adanya periode menyimpan yakni tiga bulan dan batas US$ 250.000.

Sejalan dengan itu, BI mengeluarkan aturan pendukungnya pada Agustus lalu. BI menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 7 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor dan Devisa Pembayaran Impor.

BI menetapkan instrumen penempatan DHE SDA. Instrumen tersebut yaitu Rekening Khusus DHE SDA dalam valuta asing; deposito valuta asing; instrumen keuangan yang diterbitkan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) berupa promissory note valuta asing dan term deposit operasi pasar terbuka konvensional dalam valuta asing di BI.

Dengan demikian, likuiditas dolar di Tanah Air dapat terjaga dengan baik untuk menopang stabilitas nilai tukar.

2. SRBI

Dalam rangka menerapkan operasi moneter yang maksimal, Bank Indonesia (BI) menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan SBN yang dimiliki BI sebagai underlying.

Instrumen ini adalah tambahan dari sederet ‘senjata’ yang dibuat BI untuk menjaga kekuatan rupiah, terutama dari gempuran dolar AS.

Instrumen ini juga menjadi instrumen pro-market dalam rangka memperkuat upaya pendalaman pasar uang, mendukung upaya menarik aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portofolio, serta untuk optimalisasi aset SBN yang dimiliki BI.

Kelebihan SRBI ini yakni karena bersifat traded (dapat diperdagangkan) sehingga dapat memperdalam pasar uang. Akhirnya, nanti akan ada supply demand di pasar uang untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan dengan fokus pada remaining maturity.

Ke depannya, jika pasarnya semakin dalam, BI akan merilis SRBI dengan tenor 2 minggu, 1 bulan dan 3 bulan di secondary market.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ekonom: Hawkish The Fed, Rupiah Bisa Melemah ke Rp 15.300/USD

(haa/haa)


Quoted From Many Source

Baca Juga  Hani S Rustam Tinjau Desk Pemilu 2024 – Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Banyuasin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *