Rupiah Ditutup Jeblok, Besok Diramal Anjlok Lagi hingga Nyaris Sentuh Rp15.900/USD

Berita, Teknologi671 Dilihat

Jakarta: Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini kembali mengalami pelemahan, di tengah upaya Bank Indonesia (BI) menjaga stabilisasi.
 
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 19 Oktober 2023, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp15.815 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun sebanyak 85 poin atau setara 0,54 persen dari posisi Rp15.730 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
“Pada penutupan pasar sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 85 poin walaupun sebelumnya sempat melemah 130 poin di level Rp15.815 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp15.730 per USD,” ungkap analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis harian.
 

BI naikkan suku bunga acuan 25 bps

Menjelang penutupan perdagangan hari ini, Bank Indonesia (BI) mengumumkan keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI-7 Day Repo Rate (BI7DRR) 25 basis poin (bps) ke level 6,00 persen.



Kenaikan suku bunga ini merupakan yang pertama kali sejak BI menaikkan suku bunga ke level 5,75 persen pada Januari 2023 dan mempertahankan di level tersebut hingga September 2023.
 
Mengacu pada keputusan tersebut, suku bunga Deposit Facility juga naik menjadi 5,25 persen dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,75 persen.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan keputusan BI menaikkan suku bunga acuan ini adalah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global dan sebagai langkah preemptive dan forward looking memitigasi dampaknya ke imported inflation.
 
“Jelang RDG, konsensus ekonom justru meramal Bank Indonesia akan kembali mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen,” jelas Ibrahim.
 

 

Nada hawkish Fed bikin dolar AS beringas

Dolar mendapat dukungan dari lonjakan imbal hasil Treasury AS, yang melanjutkan kenaikannya, karena pasar bertaruh Ketua Federal Reserve Jerome Powell akan memberikan nada hawkish pada pidatonya.
 
“Fokus saat ini tertuju pada pidato Ketua Fed Powell di Economic Club of New York hari ini. Mengingat kenaikan inflasi baru-baru ini, Powell diperkirakan akan mengulangi pendiriannya mengenai suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” papar Ibrahim.
 
Selain itu, di Tiongkok adanya kekhawatiran atas gagal bayar (default) pasar properti di negara tersebut. Peristiwa seperti ini dapat memicu serangkaian gagal bayar (default) bagi pengembang dan memicu restrukturisasi utang besar-besaran pada pasar properti Tiongkok.
 
Gagal bayar (default) besar-besaran di pasar properti Tiongkok menjadi pertanda buruk bagi perekonomian, mengingat pasar tersebut menyumbang sekitar seperempat aktivitas ekonomi lokal.
 
Di sisi lain, sentimen tetap lemah di tengah sedikitnya tanda-tanda deskalasi perang Israel-Hamas, yang membuat para pedagang tetap waspada terhadap aset-aset yang berisiko. Hal ini diperburuk oleh melemahnya pasar obligasi, karena para pedagang bersiap untuk menaikkan suku bunga.
 
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan besok akan bergerak secara fluktuatif meskipun kemungkinan besar akan kembali mengalami pelemahan.
 
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.800 per USD hingga Rp15.870 per USD,” jelas Ibrahim.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

Baca Juga  Pemilik Tottenham Mengaku Bersalah Dalam Kasus Insider Trading

(HUS)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *