Rupiah Dibuka Melemah Hari ini, Dolar Tembus Rp 15.615

Berita, Teknologi116 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) gegara data ekonomi AS yang masih ketat dan cadangan devisa (cadev) Indonesia yang diproyeksikan turun.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka di angka Rp15.615/US$ atau melemah 0,03% terhadap dolar AS. Posisi ini berkebalikan dengan penutupan perdagangan kemarin (5/10/2023) yang menguat 0,10%.

Sementara indeks dolar AS (DXY) pada Jumat (6/10/2023) pukul 08.55 WIB, berada di posisi 106,41 atau naik 0,08% jika dibandingkan penutupan perdagangan Kamis (5/10/2023) yang berada di posisi 106,33.



Kondisi global masih menjadi penopang pergerakan rupiah hari ini meskipun sentimen internal pun masih ditunggu pelaku pasar.

Data AS mengenai klaim awal tunjangan pengangguran negara menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih tangguh, sehari setelah laporan menunjukkan gaji swasta AS meningkat kurang dari perkiraan pada bulan September.

Pengajuan awal tunjangan pengangguran mencapai 207.000 pada pekan yang berakhir 30 September, naik hanya 2.000 dari periode sebelumnya dan di bawah perkiraan konsensus Dow Jones sebesar 210.000.

Laporan gaji bulanan pada hari Jumat bisa menjadi berita ekonomi paling penting minggu ini, namun investor masih khawatir mengenai apakah bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Selain itu, data tingkat pengangguran yang dirilis hari ini pun patut menjadi perhatian investor. Sebagai informasi, tingkat pengangguran AS mencapai 3,8% pada Agustus 2023. Pelaku pasar memperkirakan pengangguran akan tetap berada di angka 3,8% pada September tahun ini.

Sementara itu, penciptaan lapangan kerja non-farm payrolls diharapkan hanya naik 150.000 pada September 2023, dari 170.000 pada Agustus.

Baca Juga  SVBI Meluncur 21 November, Laris Diborong Investor!

Tingkat pengangguran dan non-farm payrolls merupakan data yang menjadi pertimbangan The Fed dalam menentukan suku bunga. Jika kedua data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih panas maka The Fed diperkirakan masih akan hawkish.

Pasalnya, inflasi akan sulit melandai bila pasar tenaga kerja AS masih kencang. Apabila ini terjadi bisa berdampak pada keperkasaan dolar AS yang berlanjut, imbasnya rupiah bisa tertekan karena ada capital outflow.

Beralih ke domestik, hari ini akan dirilis data cadangan devisa (cadev) yang diperkirakan mengalami penurunan menjadi US$136 miliar. Sebagai perbandingan, posisi cadev Indonesia pada akhir Agustus 2023 ada di posisi US$137,1 miliar, menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2023 sebesar US$137,7 miliar.

Penurunan posisi cadangan devisa tersebut dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rupiah Terkena Efek The Fed, Bikin Dolar Tembus Rp 15.500

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *