Rempang – Medcom.id

Berita, Teknologi198 Dilihat
‘AKULAH orang Rempang, akulah orang Galang dan Bulang, pewaris semangat Tuah, Jebat dan Nadim yang kini menghadang kekuasaan zalim. Yang datang dengan janji-janji dan investasi, tapi nak habisi kampung kampung kami, kampung yang kami warisi ratusan tahun lamanya.
 

Dulu, moyang kami bertikam lawan Kompeni. Tapi, kenapa di musim ini, kami harus terusir dari kampung sendiri?
 

Akulah orang Rempang, Bulang dan Galang, tak kan beranjak dari tanah tempat berpijak, tanah warisan moyang wira wira gemilang. Esa hilang, dua terbilang, tiada rela kampung kan hilang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Penggalan sajak di atas ialah karya pegiat sastra asal Rempang, Batam, Tarmizi Rumahitam. Ia menuangkan kemarahannya lewat puisi. Ia ingin mengingatkan suara rakyat Rempang harus didengar sebelum membuat keputusan.
Upaya pembangunan proyek strategis nasional Rempang Eco City dengan janji perbaikan ekonomi mestinya tidak meninggalkan siapa pun. Justru yang paling utama, mendengar suara rakyat Rempang tentang janji kesejahteraan tanpa harus membuat mereka pergi dari kampung halaman.
 
Apakah itu ‘penggusuran’ atau ‘pengosongan’, mestinya kuasa modal tidak boleh mendiktekan kehendak. Jika terjadi pertarungan antara modal dan manusia, rumusnya jelas: kemanusiaan mesti dimenangkan. Itu karena manusia priceless, tidak terhitung harganya.
 
Kasus Rempang kiranya bukti kegagalan negara dalam mendesain dan merencanakan pembangunan berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak tersedia ruang luas untuk mendialogkan bagaimana cara mewujudkan janji kemakmuran tanpa pengusiran.
 
Pendekatan yang digunakan di Rempang, sejauh ini, lebih menonjolkan pendekatan kekuasaan, alih-alih memilih jalan partisipatif. Pendekatan kekuasaan akan memilih pola komunikasi koersif, ‘pokoknya harus ikut dan nurut‘. Siapa pun yang enggak ikut, dianggap ‘antipembangunan’, ‘provokator’, ‘tidak prokemakmuran’.

Mestinya, dalam setiap desain peta jalan menuju kemakmuran, setiap orang dilibatkan. Setiap yang orang mesti punya ruang luas untuk mempertanyakan, ‘pembangunan untuk siapa?’, ‘kemakmuran buat siapa?’.
 
“Rakyat dan aparat sama-sama korban. Investasi yang masih gaib dan belum pasti memberi kesejahteraan telah membuat rakyat dan aparat berjibaku. Ini menyedihkan. Sesama bangsa sendiri saling hantam. Kelak, siapa kah yang paling besar dapat untung, dan siapa yang paling buntung?” kata Tarmizi, sang penyair Rempang.
 
Apa yang dikatakan Tarmizi diamini oleh pegiat sastra Melayu asal Riau, Syarifah Laila Hayati. Lewat sajak berjudul Ada Lanun di Pulau Rempang, ia menulis:
 
Inilah kisah disebutkan

Si pulau Rempang namanya

Pulau nan elok indah permai

Masyarakat hidup penuh damai

Datanglah seorang lanun

Lanun membawa keris pusaka

Menikam tanah

Menikam masa

Menghalau sanak sedarah sebangsa

Lanun

Lanun berkaki besi

Atas titah sang maha duli

Ucap petuah si ekonomi

Merebut paksa pustaka Pertiwi

Jika Rempang tak dipeduli

Kisah Rempang hilang tertelan bumi

Kukuh jemari usir lanun

Rempang milik Melayu tua

Hingga akhir masa.

 
Rempang mestinya tidak perlu menjadi ladang persabungan, bila negara mampu merebut kepercayaan. Cukuplah itu jadi sejarah lampau, di era Orde Baru, ketika kasus Waduk Kedung Ombo, Jateng, atau saat tragedi Nipah, Madura, terjadi.
 
Semoga kemakmuran terwujud, tanpa harus ada jiwa atau raga yang terenggut. Kemakmuran mestinya milik semua orang, bukan cuma untuk sebagian-sebagian.
 

Quoted From Many Source

Baca Juga  Heboh Bos OT Group Pulang Kerja Naik Helikopter, Ini Sosoknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *