Produksi OPEC Meningkat, Harga Minyak Turun 2 Hari

Berita, Teknologi589 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia dibuka bervariasi pada perdagangan Rabu (1/11/2023) setelah penurunan dua hari beruntun.

Hari ini harga minyak mentah WTI dibuka menguat 0,57% di posisi US$81,48 per barel, sementara harga minyak mentah brent dibuka melemah 0,22% ke posisi US$85,38 per barel.


Pada perdagangan Selasa (31/10/2023), harga minyak mentah WTI ditutup anjlok 1,57% di posisi US$81,02 per barel, begitu juga dengan minyak mentah brent ditutup turun 0,90% ke posisi US$85,57 per barel.

Harga minyak melemah pada perdagangan Selasa karena kekhawatiran pasar berkurang terhadap potensi gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah dan data menunjukkan peningkatan produksi dari OPEC dan Amerika Serikat.

Produksi minyak mentah OPEC naik 180.000 barel per hari (bpd) pada bulan Oktober, menurut survei Reuters, terutama didorong oleh Nigeria dan Angola.

Produksi lapangan minyak mentah AS juga naik ke rekor bulanan baru pada bulan Agustus sebesar 13,05 juta barel per hari, menurut data Badan Informasi Energi (EIA).

Data aktivitas manufaktur dan non-manufaktur yang lebih lemah dari perkiraan di China memicu kekhawatiran akan melambatnya permintaan bahan bakar dari konsumen minyak nomor dua di dunia tersebut.

Sementara itu, inflasi zona Euro pada bulan Oktober berada pada level terendah dalam dua tahun, turun menjadi 2,9% dari 4,3% pada bulan September, menurut perkiraan awal Eurostat. Hal ini berarti Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Pertumbuhan ekonomi global yang lambat akan membuat harga minyak mentah berada di bawah US$90 per barel pada tahun ini dan tahun depan, kecuali konflik Israel-Hamas menarik lebih banyak negara di Timur Tengah dan memperburuk ketatnya pasokan. Dengan demikian investor akan tetap mewaspadai potensi negara lain ikut serta dalam konflik tersebut.

Baca Juga  Wapres Ma'ruf Amin Buka Perdagangan Saham Perdana 2024

Sejauh ini perkembangan kondisi Timur Tengah belum berdampak kepada minyak, seiring dengan semakin intensifnya invasi darat, meski keterlibatan Iran meningkat.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak seruan penghentian pertempuran untuk meredakan krisis kemanusiaan, ketika pasukan Israel menyerang Hamas di jaringan terowongan di bawah eksklave Palestina.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Minyak Kembali Reli Setelah Anjlok 1% Kemarin

(saw/saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *