Pasar Menunggu Data Ekonomi, Rupiah Makin Dekati Rp15.400

Berita, Teknologi607 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di saat pelaku pasar menunggu keputusan mengenai suku bunga acuan di AS dan Indonesia.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,10% terhadap dolar AS di angka Rp15.380/US$ pada hari Selasa (19/9/2023). Pelemahan ini merupakan yang terparah sejak 14 Maret 2023.

Sementara indeks dolar AS (DXY) justru mengalami depresiasi dan berada di angka 105,15 atau turun dari penutupan perdagangan Senin (18/9/2023) yang berada di posisi 105,20.



Sembilan bank sentral akan merilis suku bunganya pekan ini. Kesembilan bank sentral ini menjadi perhatian publik karena merupakan anggota G20 dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di dunia. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil kesembilan negara ini akan berdampak besar bagi negara-negara lainnya.

Kesembilan bank sentral itu terdiri dari bank sentral China (PBoC) yang merilis data suku bunganya pada Rabu (20/9/2023) dan bank sentral Jepang (BoJ) pada Jumat (22/9/2023).

Puncaknya adalah pada Kamis (21/9/2023) di mana ada tujuh bank sentral yang akan mengumumkan suku bunga yakni bank sentral Brasil, Turki, Afrika Selatan, Inggris, Saudi Arabia, Indonesia, dan tentu saja Amerika Serikat (AS).

Salah satu bank sentral yang paling ditunggu pasar yakni bank sentral AS (The Fed). Suku bunga The Fed dinilai akan ditahan di level 5,25-5,50% oleh pelaku pasar. Hal ini sesuai dengan survei perangkat CME FedWatch yang didominasi bahwa 99% mengatakan pause. Sedangkan hanya 1% yang mengatakan suku bunga AS mengalami kenaikan 25 basis poin (bps).

Sedangkan dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 September dan akan mengumumkan hasilnya pada Kamis, 21 September siang.

Baca Juga  Persib Hancurkan Dewa United - Medcom.id

Konsensus pasar dalam Reuters memperkirakan BI akan kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75%. Jika ekspektasi pasar tersebut benar, maka BI sudah menahan suku bunga acuannya sejak tujuh bulan terakhir.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ramai Negara ASEAN “Buang” Dolar AS, Rupiah Bisa Makin Jaya?

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *