Minyak Berjangka Brent Dibuka Terjun 3%

Berita, Teknologi534 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia dibuka tak kompak pada pembukaan perdagangan Senin (2/10/2023) di mana minyak mentah brent dibuka jatuh sangat dalam.

Hari ini harga minyak mentah WTI dibuka menguat tipis 0,03% di posisi US$90,82 per barel, sedangkan minyak mentah brent dibuka anjlok 3,28% ke posisi US$92,18 per barel.


Sementara itu pada perdagangan Jumat (29/9/2023), minyak WTI ditutup anjlok 1% ke posisi US$90,79 per barel, begitu juga dengan harga minyak brent ditutup turun 0,07% ke posisi US$95,31 per barel.

Kini investor fokus pada prospek pasokan global yang ketat setelah kesepakatan kongres pada menit-menit terakhir untuk menghindari penutupan pemerintah (government shutdown) Amerika Serikat (AS).

Harga minyak turun 1% pada hari Jumat dan berlanjut pada penurunan minyak brent pagi hari ini hingga 3% karena kekhawatiran makroekonomi dan aksi taking profit para pelaku pasar.

Namun hingga kuartal III 2023 minyak berhasil naik sekitar 30% secara kuartalan karena pengurangan produksi OPEC+ menekan pasokan minyak mentah global.

Dengan harga minyak berjangka mendekati US$100 per barel, banyak investor mengambil keuntungan dari reli tersebut mengingat kekhawatiran makroekonomi yang sedang berlangsung.

Aktivitas minyak dan gas di tiga negara bagian penghasil energi AS telah meningkat seiring dengan lonjakan harga terbaru, menurut survei yang dilakukan oleh The Federal Reserve Bank of Dallas.

Pada bulan Juli, produksi minyak mentah AS tumbuh ke level tertinggi sejak November 2019, menurut data dari Badan Informasi Energi (EIA).

Namun jumlah rig minyak dan gas AS, yang merupakan indikator awal produksi di masa depan, turun tujuh menjadi 623 dalam minggu yang berakhir 29 September, terendah sejak Februari 2022, menurut laporan dari perusahaan jasa energi Baker Hughes BKR.O pada hari Jumat.

Baca Juga  Bursa Karbon RI Diharapkan Masuk Skala Global

Meskipun jumlah total rig turun sebanyak 51 rig pada kuartal ketiga, pengurangan tersebut melambat dibandingkan dengan pengurangan sebanyak 81 rig pada kuartal kedua karena harga minyak telah kembali pulih akibat pengetatan pasokan.

Brent diperkirakan akan berada dirata-rata US$89,85 per barel pada kuartal keempat dan US$86,45 pada tahun 2024, menurut survei terhadap 42 ekonom yang dikumpulkan oleh Reuters pada hari Jumat.

“Pertemuan panel tingkat menteri OPEC+ akan berlangsung pada 4 Oktober dan ada kemungkinan besar pengurangan pasokan sukarela oleh Aramco,” menurut catatan analis National Australia Bank, mengacu pada produsen minyak negara Arab Saudi.

Pengurangan pasokan yang diumumkan oleh Arab Saudi dan Rusia diperkirakan akan mendominasi harga minyak untuk sisa tahun ini.

Namun, kenaikan menuju harga US$100 per barel mungkin tidak akan bertahan lama karena “sifat buatan dari kekurangan pasokan dalam sistem, dan lingkungan makro yang rapuh”, ucap Suvro Sarkar, pemimpin tim sektor energi di DBS Bank.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Minyak Kembali Reli Setelah Anjlok 1% Kemarin

(saw/saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *