Mayoritas Bursa Asia Dibuka Merah, Alarm Bahaya Buat IHSG?

Berita, Teknologi684 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia-Pasifik kembali dibuka melemah pada perdagangan Rabu (27/9/2023), di tengah memburuknya kembali sentimen dari Amerika Serikat (AS) dan China.

Per pukul 08:30 WIB, hanya indeks Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite China yang menguat pada pagi hari ini. Hang Seng menguat 0,42%, sedangkan Shanghai bertambah 0,2%.

Sedangkan sisanya kembali melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,68%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,65%, ASX 200 Australia terpangkas 0,23%, dan KOSPI Korea Selatan turun tipis 0,09%.

Dari China, data keuntungan industri periode Agustus 2023 akan dirilis pada hari ini, di mana data ini juga cukup penting mengingat seberapa besar perusahaan di China mencetak keuntungannya.

Pasar memprediksi Laba perusahaan-perusahaan industri China kembali berkontraksi menjadi minus 15,5% secara tahunan pada Agustus 2023, dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini dapat memperpanjang kemerosotan tahun ini dengan lemahnya permintaan yang menekan perusahaan-perusahaan ketika pemulihan pasca-pandemi tersendat di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Di lain sisi, ekonomi China pada kuartal II-2023 juga masih berada di bawah ekspektasi pasar, meski sudah tumbuh positif.

Ke depan negeri tirai bambu tersebut akan alami banyak tekanan sehingga alami pelemahan signifikan. Hingga akhir tahun beberapa ekonomi memperkirakan ekonomi China tumbuh hanya 4%.

Tekanan dalam jangka panjang, berkaitan dengan persoalan struktural di China. Pertama adalah krisis sektor properti yang dipicu oleh Evergrande. Hal ini berpengaruh besar bagi industri properti dan keuangan.

Lebih lanjut, Foreign Direct Investment (FDI) juga turun sangat dalam terutama pertengahan tahun lalu dan semester pertama tahun ini, menggambarkan China akan mengalami tekanan sangat berat.

Baca Juga  Pasar Modal RI Masih Cerah, OJK Ungkap Pemicunya

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang cenderung kembali melemah terjadi di tengah melandainyabursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kemarin, setelah sempat rebound pada Senin awal pekan ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutupambles 1,14%, S&P 500ambruk 1,47%, dan Nasdaq Composite anjlok 1,57%.

Saham Amazon ambles 4%, sebagian besar dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar setelah Komisi Perdagangan Federal mengajukan gugatan antimonopoli, dengan mengatakan bahwa pengecer online tersebut menjaga harga tetap tinggi dan merugikan pesaingnya.

Di lain sisi, penjualan rumah baru di AS pada Agustus meleset dari ekspektasi. Rumah yang dikontrak berjumlah 675,000 pada bulan tersebut, turun 8.7% dari bulan Juli, menurut Departemen Perdagangan AS. Ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan total 695.000, yang berarti penurunan 2,7% dari total bulan Juli yang tidak direvisi.

Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen (IKK) Conference Board turun menjadi 103 pada September, turun dari 108,7 pada Agustus. Para ekonom mengantisipasi 105,5, menurut perkiraan konsensus dari Dow Jones. Indeks ekspektasi anjlok ke 73,7, di bawah tingkat yang diasosiasikan para pengamat dengan resesi.

Salah satu katalis yang menyeret saham-saham lebih rendah pada bulan ini adalah peringatan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) bahwa mereka memperkirakan penurunan suku bunga akan lebih sedikit pada tahun depan.

Kabar tersebut mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun ke tingkat yang belum pernah terlihat sejak tahun 2007.

“Investor masih gelisah dan gelisah mengenai dampak kenaikan imbal hasil obligasi terhadap perekonomian, pasar saham, The Fed, serta nilai dolar,” kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di Penelitian CFRA yang dikutip dari CNBC International.

Investor pekan ini juga bergulat dengan negosiasi di Washington, karena anggota parlemen berharap untuk menghindari penutupan pemerintah yang bisa terjadi pada awal Oktober 1 jika Kongres tidak menyetujui rancangan undang-undang belanja negara.

Baca Juga  Warga RI Punya Banyak Rekening, Tapi Kurang Melek Keuangan

Namun, gejolak pasar musiman yang akan datang dapat memberikan peluang bagi investor. Meskipun Oktober dikenal sebagai “bulan sial” karena kejatuhan pasar pada tahun 1929 dan 1987, Oktober juga mempunyai reputasi sebagai “pembunuh beruang,” menurut “Almanak Trader Saham.”

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Investor Wait and See, Bursa Asia Dibuka Kurang Bertenaga

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *