Leptospirosis di Gunungkidul Mencapai 63 Kasus, 3 Orang Meninggal

Berita, Teknologi659 Dilihat


Gunungkidul: Kasus leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai 63 kasus sejak awal tahun hingga Oktober 2023. Angka ini berpotensi melampaui kasus yang sama pada 2017 silam. 

“(Kasus leptospirosis) tahun ini bisa berpotensi bertambah. Kami harap masyarakat waspada,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty pada Sabtu, 7 Oktober 2024. 

Dari 63 kasus leptospirosis sejauh ini, 3 orang di antaranya meninggal dunia. Sementara, jumlah kasus serupa pada 2017 hanya selisih 1 kasus, yakni 64 dengan 16 di antaranya meninggal dunia. 

Usai 2017, angka leptospirosis cenderung turun, bahkan pernah di bawah 10 kasus dalam setahun. Rinciannya, 16 kasus (1 meninggal) pada 2018; 9 kasus (2 meninggal pada 2019; 6 kasus (1 meninggal) pada 2020; 17 kasus (4 meninggal) pada 2021; dan 31 kasus (4 meninggal) pada 2022. 
 


Dewi mengatakan tren kasus leptospirosis usai 2019 cenderung meningkat. Situasi itu menjadi peringatan agar masyarakat lebih berhati-hati menghindari penyakit akibat air seni hewan yang terinfeksi. 

Menurut Dewi, upaya yang dilakukan jajarannya, yakni menyosialisasikan pada masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, serta rajin berolahraga. Ia mengatakan kebersihan lingkungan dari sarang tikus menjadi bagian antisipasi penting penyakit tersebut.

“Jadi kalau lingkungan kita bersih, kemunculan tikus bisa ditekan sehingga potensi penularan juga bisa berkurang,” ujarnya.  

Selain lingkungan, ia berharap para petani menggunakan pelindung saat bekerja, seperti sepatu, pakaian lengan panjang, dan sarung tangan. Pasalnya, area pesawahan maupun ladang pertanian jadi titik persebaran tikus. 

“Kami juga akan mengoptimalkan peran Satgas One Health yang ada di setiap kapanewon (kecamatan) guna melakukan pencegahan,” ungkapnya. 

Baca Juga  Upah Kabupaten Bekasi Bisa Naik 13,99%, Buruh Desak Provinsi DKI Naikkan UMP

Gunungkidul: Kasus leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai 63 kasus sejak awal tahun hingga Oktober 2023. Angka ini berpotensi melampaui kasus yang sama pada 2017 silam. 
 
“(Kasus leptospirosis) tahun ini bisa berpotensi bertambah. Kami harap masyarakat waspada,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Dewi Irawaty pada Sabtu, 7 Oktober 2024. 
 
Dari 63 kasus leptospirosis sejauh ini, 3 orang di antaranya meninggal dunia. Sementara, jumlah kasus serupa pada 2017 hanya selisih 1 kasus, yakni 64 dengan 16 di antaranya meninggal dunia. 



Usai 2017, angka leptospirosis cenderung turun, bahkan pernah di bawah 10 kasus dalam setahun. Rinciannya, 16 kasus (1 meninggal) pada 2018; 9 kasus (2 meninggal pada 2019; 6 kasus (1 meninggal) pada 2020; 17 kasus (4 meninggal) pada 2021; dan 31 kasus (4 meninggal) pada 2022. 
 

Dewi mengatakan tren kasus leptospirosis usai 2019 cenderung meningkat. Situasi itu menjadi peringatan agar masyarakat lebih berhati-hati menghindari penyakit akibat air seni hewan yang terinfeksi. 
 
Menurut Dewi, upaya yang dilakukan jajarannya, yakni menyosialisasikan pada masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, serta rajin berolahraga. Ia mengatakan kebersihan lingkungan dari sarang tikus menjadi bagian antisipasi penting penyakit tersebut.
 
“Jadi kalau lingkungan kita bersih, kemunculan tikus bisa ditekan sehingga potensi penularan juga bisa berkurang,” ujarnya.  
 
Selain lingkungan, ia berharap para petani menggunakan pelindung saat bekerja, seperti sepatu, pakaian lengan panjang, dan sarung tangan. Pasalnya, area pesawahan maupun ladang pertanian jadi titik persebaran tikus. 
 
“Kami juga akan mengoptimalkan peran Satgas One Health yang ada di setiap kapanewon (kecamatan) guna melakukan pencegahan,” ungkapnya. 

Baca Juga  Dompet XRP Diretas Rp1,86 Triliun, Kripto Tergelincir

 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

(NUR)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *