Khawatir Suku Bunga AS Naik Lagi, Wall Street Ditutup Ambles

Berita, Teknologi82 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kompak ambles setelah bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) mengeluarkan risalah yang masih menunjukkan kebijakan ketat melalui kenaikan suku bunga.

Pada perdagangan Rabu (16/8/2023), Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,52% menjadi 34.765,74, indeks S&P 500 menyusut 0,76% ke posisi 4.404,33, kemudian indeks Nasdaq Composite turun paling dalam dari yang lain sebesar 1,15% menuju 13.474,63.

Sektor perbankan masih melanjutkan pelemahan pada indeks S&P 500 sekitar 1%, dengan Bank of Amerika jadi paling laggard menyusut 2,2%. Saham NVIDIA juga terpantau melemah 1%, padahal selama dua hari sebelumnya naik akibat penantian hasil kinerja kuartalan dan perancang chip di minggu depan.

Bursa saham AS kompak ditutup anjlok disinyalir karena risalah hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan sebagian besar pejabat lebih memprioritaskan pertarungan atas inflasi.

“Dengan inflasi yang masih jauh di atas tujuan jangka panjang Komite dan pasar tenaga kerja tetap ketat, sebagian besar peserta terus melihat risiko kenaikan yang signifikan terhadap inflasi dan tetap memerlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut,” ungkap risalah dalam pertemuan FOMC.

Hal tersebut semakin menambah ketidakpastian di pasar, pasalnya the Fed melawan inflasi dengan menaikkan suku bunga. Oleh sebab itu, sikap bank sentral AS tersebut di proyeksi pasar masih bisa ketat lagi untuk pertemuan selanjutnya di sisa akhir tahun ini.

Hubungan kenaikan suku bunga acuan dengan sikap pasar yang volatile ini karena akan meningkatkan ongkos pinjaman. Dengan begitu, beban perusahaan akan meningkat dan bisa menghambat ekspansi, bahkan bisa sampai menggerus profitabilitas. 

Baca Juga  TikTok Shop Tutup, Induknya di China Ternyata Cuan Segini

Sebagai informasi, the Fed pada bulan lalu telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke posisi 5,25% – 5,00%, merupakan yang tertinggi selama lebih dari 22 tahun dengan target bisa melawan inflasi ke angka 2%.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected] 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Pasar Lagi Gak Baik-baik Aja, Wall Street Ditutup “Galau”

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *