Jelang Tahun Politik, Laba Emiten Rokok RI Kompak Melonjak

Berita, Teknologi1653 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Lima emiten rokok yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak mencatat kenaikan kinerja keuangan sepanjang semester I 2023. Kenaikan ini didorong dari peningkatan penjualan.

Hal ini menandakan bahwa tingkat konsumsi rokok terus bertambah meskipun Pemerintah telah menaikkan cukai rokok rata-rata 10% mulai 1 Januari 2023 yang berdampak pada kenaikan harga rokok.

Berikut rekapan kinerja kuangan lima emiten rokok sepanjang semester I 2023.


Kenaikan kinerja saham rokok pertama datang dari PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang berhasil mencatat kenaikan laba sebesar 243,9% pada semester I 2023 menjadi Rp3,28 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp956,14 miliar.

Peningkatan laba pada GGRM bukan didorong dari peningkatan pendapatan. Justru pendapatan Perseroan turun sebesar 9,43% pada semester I 2023 menjadi Rp55,85 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp61,67 triliun. Namun jika melihat pada margin Perseroan, meski pendapatannya turun, tapi diimbangi dengan efisiensi pada biaya pokok penjualan sehingga margin Perseroan pada semester I 2023 menjadi 14,20%, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,33%. Hal ini yang membuat laba usaha Perseroan meningkat menjadi Rp4,53 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,39 triliun.

Selain positifnya kinerja keuangan GGRM pada semester I 2023, sentimen dari masuknya kembali GGRM di indeks LQ45 seharusnya masih menjadi sentimen positif bagi GGRM.

Dalam rebalancing indeks LQ45 terbaru, GGRM resmi masuk lagi sebagai salah satu konstituen indeks LQ45 karena pulihnya kinerja bottom line dan prospek ekonomi domestik yang masih positif mendukung bisnis.

Adapun rebalancing LQ45 kali ini akan secara efektif diberlakukan pada 3 Agustus 2023 – Januari 2024. Masuknya saham emiten milik konglomerat Susilo Wonowidjojo ini akan menyumbang bobot sekitar 0,51% terhadap indeks dengan free float sebesar 17,16%.

Selanjutnya kenaikan kinerja juga terjadi pada PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP). Perseroan berhasil mencatat kenaikan laba bersih sebesar 23,02% pada semester I 2023 menjadi Rp3,75 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,04 triliun.

Kenaikan laba bersih tersebut ditopang dari kenaikan pendapatan sebesar 4,95% pada semester I 2023 menjadi Rp56,15 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp53,5 triliun.

Kenaikan penghasilan keuangan juga berkontribusi pada kenaikan laba bersih Perseroan. Penghasilan keuangan pada semester I 2023 naik menjadi Rp303,1 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp173,8 miliar.

Untuk mendongkrak kinerja Perseroan kedepan, Perseroan telah melakukan ekspansi produk tembakau tanpa asap IQOS dengan merek HEET. Perseroan telah merealisasikan investasi sebesar US$186 juta atau sekitar Rp2,79 triliun (kurs Rp14.990/US$1 per tanggal 27 Juni 2023) untuk penyelesaian pabrik produk tembakau tanpa asap IQOS dengan merek HEET.

Baca Juga  BTN Bakal Luncurkan Pay Later di Semester I-2024

Perseroan melakukan ekspor perdana produk HEETS dengan destinasi pasar Asia Pasifik. Ekspor perdana produk tembakau inovatif bebas asap adalah ke Malaysia dan Filipina. Selanjutnya, Perseroan merencanakan ekspor ke 40 negara lain.

Pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat tersebut telah beroperasi sejak kuartal IV/2022 dan memproduksi khusus untuk pasar ekspor maupun domestik.

Perseroan mengatakan bahwa produk tembakau tanpa asap dikembangkan berdasarkan penelitian ilmiah dengan pendekatan pengurangan bahaya. Philip Morris International telah mengembangkan ragam produk tembakau inovatif bebas asap tanpa proses pembakaran sebagai upaya memperkenalkan alternatif bagi perokok dewasa.

Saat ini, produk bebas asap Philip Morris sudah tersedia di 70 pasar di seluruh dunia. IQOS sendiri telah diperkenalkan di Indonesia melalui skema uji pasar terbatas sejak 2019 dan tersedia di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar, Bandung, Medan, Pekanbaru, Palembang, Makassar, Balikpapan, dan Samarinda.

Bukan hanya GGRM dan HMSP yang berhasil mencatat kenaikan laba, emiten rokok lainnya yakni PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) juga mencatatkan kenaikan laba bersih pada semester I 2023 sebesar 23,47% menjadi Rp10,78 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,73 miliar.

Kenaikan laba bersih Perseroan berasal dari peningkatan pendapatan pada semester I 2023 sebesar 12,07% menjadi Rp142,88 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp127,49 miliar.

Namun sayangnya kerugian kurs masih menggerus peningkatan laba pada Perseroan. ITIC harus mengalami kerugian kurs pada semester I 2023 sebesar Rp13,53 juta. Namun terdapat hal lain yang mendorong peningkatan laba Perseroan yakni pada peningkatan pendapatan lain-lain pada semester I 2023 menjadi Rp60,77 juta, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya justru mengeluarkan beban lain-lain sebesar Rp192,79 juta.

Laju bisnis ITIC didorong oleh perubahan gaya hidup konsumen yang mencari alternatif rokok lebih ekonomis. Kondisi ini menjadi kesempatan bagi perseroan untuk mendongkrak lebih banyak lagi penjualan.

Produk rokok ITIC berupa anggur kupu, lampion lilin, kuda terbang biru, roda terbang biru, manna, save, pohon sagu extra, bunga sakura, dc, djago tarung, kuda terbang, pohon mangga, mawar anggrek, pohon sagu, pohon salak, pohon djambu, tandjung, rumah minangkabau, varian papillon, varian butterfly, dan deer.

Emiten rokok selanjutnya yakni PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA). Emiten yang akan segera go private ini mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang cukup baik. Laba bersih Perseroan pada semester I 2023 naik sebesari 154% menjadi Rp40,68 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp16 miliar.

Peningkatan laba didorong oleh pertumbuhan pendapatan pada semester I 2023 sebesar 27% menjadi Rp4,31 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,38 triliun.

Penurunan pada beban operas lainnya juga mendorong peningkatan laba bersih Perseroan. Beban operasi lainnya turun pada semester I 2023 menjadi Rp63,23 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp263,19 miliar.

Baca Juga  Garuda (GIAA) Lunasi Sebagian Utang Obligasi, Tinggal Sisa Segini

Diketahui RMBA tengah melakukan proses proses go private atau delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham RMBA sudah suspen sejak Agustus 2021. Suspensi saham ini masih berlanjut hingga hari ini.

Berdasarkan keterbukaan informasi di idx pada 20 Agustus 2021, terdapat lima alasan Perseroan melakukan go private.


Dan terakhir datang dari emiten PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) yang juga berhasil mencatat kenaikan laba bersih sepanjang semester I 2023 sebesar 200,49% menjadi Rp246,87 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp82,15 miliar.

Peningkatan laba bersih Perseroan berasal dari pertumbuhan pendapatan sepanjang semester I 2023 sebesar 46,37% menjadi Rp2,38 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,62 triliun.

Pendapatan bunga juga mendorong pertumbuhan laba Perseroan pada semester I 2023 menjadi Rp9,04 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,86 miliar.

Perseroan terus optimistis dapat memenuhi target produksi filter sebesar 6 miliar batang filter atau setara dengan 26 miliar batang rokok hingga akhir tahun 2023.

Optimisme tersebut didukung oleh beragam strategi yang dijalankan Wismilak untuk memaksimalkan bisnis tahun ini.

Perseroan juga berencana menambah fasilitas produksi berupa penambahan tiga mesin produksi filter di tahun ini.

Kemudian, menurut data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menunjukkan produksi rokok pada bulan Juli 2023 mencapai 27,79 miliar batang. Jumlah tersebut melesat 14,22% dibandingkan bulan sebelumnya. Produksi rokok pada Juli tahun ini juga melesat 8,64% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


Kenaikan rokok pada Juli disebabkan normalnya hari kerja pada bulan tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi Juni di mana terdapat libur panjang Idul Adha sehingga hari kerja berkurang.

Produksi rokok diharapkan meningkat menjelang masa kampanye pemilihan umum (pemilu) 2024 yang akan mulai digelar November 2023. Secara historis, produksi rokok biasanya melonjak menjelang kampanye pemilu.

Pada musim kampanye 2019 yang berlangsung pada September hingga April, rata-rata produksi rokok mencapai 29,6 miliar batang. Padahal, pada peride September 2017-April 2018 hanya tercatat 24,36 miliar batang.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Panen Raya! Harga Beras & Saham Emitennya Bakal Turun?

(saw/saw)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *