Gegara Gempuran Sentimen Negatif, Rupiah Kian Melemah

Berita, Teknologi645 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah sentimen negatif dari China dan Indonesia dan sikap wait and see inflasi AS.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,1% terhadap dolar AS di angka Rp15.335/US$ pada hari Senin (11/9/2023). Pelemahan ini terjadi sejak 1 September 2023.

Namun demikian, justru indeks dolar AS (DXY) mengalami depresiasi di angka 104,80 atau dengan kata lain mematahkan tren penguatan yang terjadi sejak 31 Agustus 2023.



Sentimen negatif akan menopang pergerakan rupiah hari ini, khususnya datang dari AS, China, maupun domestik.

Dari AS tercatat pekan ini akan dirilis data inflasi periode Agustus 2023. Melansir data Trading Economic, inflasi umum diperkirakan akan melonjak ke 3,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari bulan sebelumnya sebesar 3,2% yoy.

Bila inflasi mengalami kenaikan bahkan jika di atas ekspektasi pasar maka pasar keuangan Tanah Air rawan mengalami capital outflow karena investor diprediksi menarik dana dari Emerging Market dan mengalihkannya ke aset berdenominasi dolar AS.

Harga minyak dunia yang meroket pun menjadi faktor inflasi AS mengalami kenaikan. Pasalnya, selama sebulan terakhir hingga perdagangan yang berakhir 8 September 2023, Brent crude futures melesat 3,87% ke US$ 90,2 per barel, sementara WTI crude futures naik 4,31% ke US$ 87,2 per barel.

Sedangkan dari China, terpantau indeks harga konsumen keluar dari zona deflasi namun masih tergolong rendah. Pada Sabtu (9/9/2023), China terpantau sudah merilis inflasi untuk periode Agustus 2023 yang hasilnya hanya naik tipis 0,1% yoy, meleset dari konsensus pasar yang proyeksi bisa mencapai 0,2% yoy.

Baca Juga  Jelang Libur Natal, Bursa Asia Menghijau, Bakal Happy Ending?

Sedangkan pekan lalu, Sang Naga Asia melaporkan ekspor mereka kembali terkontraksi 8,8% (yoy) menjadi US$ 284,9 miliar pada Agustus 2023 sementara impor mereka terkoreksi sebesar 7,3% (yoy) menjadi US$ 216, 51 miliar. Artinya, ekspor sudah terkoreksi selama empat bulan beruntun sementara impor terkontraksi selama enam bulan beruntun.

Lesunya ekonomi Tiongkok juga semakin diperparah dengan kebijakan larangan penggunaan iPhone. Beijing kini memperluas larangan penggunaan iPhone tidak hanya kepada pegawai pemerintah pusat tetapi juga pegawai BUMN serta lembaga. Pelarangan ini dibuat menjelang gelaran akbar Apple pekan depan. Raksasa Cupertino itu hendak meluncurkan seri iPhone 15 teranyar.

Sementara sentimen negatif juga datang dari dalam negeri setelah Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa data transaksi 4 – 7 September 2023, nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat jual neto Rp7,57 triliun terdiri dari jual neto Rp7,06 triliun di pasar SBN dan jual neto Rp0,50 triliun di pasar saham.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa (cadev) berada di kisaran US$137,1 miliar per akhir Agustus 2023. Angka ini sedikit menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2023 sebesar US$137,7 miliar.

Pelemahan ini memberikan dampak negatif terhadap rupiah karena kemampuan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah akan semakin berkurang dengan menurunnya angka cadev.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rupiah Menguat ke Rp 14.750/USD, Efek Investor “Buang” Dolar?

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *