Emas Dunia Makin Ambles, Jeblok 5 Bulan Terakhir

Berita, Teknologi508 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Emas dunia masih harus bersedih, pasalnya harga emas sekarang sudah tembus ke bawah level psikologis US$ 1800 per troy ons.

Melansir data Refinitiv, pada perdagangan Kamis (17/8/2023) per pukul 07.41 WIB harga emas di pasar spot kembali jatuh ke harga US$ 1892,76 per troy ons. Ini merupakan level yang terendah nyaris selama lima bulan terakhir.


Ambruknya emas tak bisa dilepaskan dari dara penjualan ritel AS yang masih sangat kencang. Penjualan ritel AS meningkat 0,7% (month to month/mtm) dan melesat 3,2% (year on year/yoy) pada Juli. Penjualan ritel (mtm) jauh di atas proyeksi pasar yakni 0,4%. Sementara itu, penjualan ritel (yoy) menjadi yang tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Masih kencangnya penjualan ritel menjadi kekhawatiran pelaku pasar. Pasalnya, data tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi dan bisa menjadi sinyal kencangnya inflasi ke depan. Kondisi ini akan membuat bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan ketatnya.

“Fakta bahwa data ekonomi AS masih tangguh membuat pasar meyakini The Fed masih akan ketat ke depan. Data ekonomi yang kuat membuktikan outlook ekonomi ke depan masih kuat,” tutur analis CMC Markets, Michael Hewson, dikutip dari Reuters.

Kebijakan ketat the Fed semakin mendapatkan gambaran jelas pada hasil risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) semalam menunjukkan sebagian besar pejabat lebih memprioritaskan pertarungan atas inflasi.

“Dengan inflasi yang masih jauh di atas tujuan jangka panjang Komite dan pasar tenaga kerja tetap ketat, sebagian besar peserta terus melihat risiko kenaikan yang signifikan terhadap inflasi dan tetap memerlukan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut,” ungkap risalah dalam pertemuan FOMC.

Baca Juga  Kolaborasi BSI & Mandiri Sekuritas, Kini Bisa Buka RDN Online!

Kenaikan suku bunga acuan the Fed bisa membuat mata uang dolar AS menguat, imbasnya ke emas bisa negatif karena membuat harga emas nampak mahal sehingga kecenderungan pelaku pasar akan wait and see dulu untuk mengantisipasi rugi dari selisih kurs.

Sebagai informasi, the Fed pada bulan lalu telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke posisi 5,25% – 5,00%, merupakan yang tertinggi selama lebih dari 22 tahun dengan target bisa melawan inflasi ke angka 2%.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected] 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Harga Emas Meroket, Saham PSAB Terbang 10% Lebih

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *