Cadev RI Diproyeksi Turun Lagi, Rupiah Melemah Lawan Dolar AS

Berita, Teknologi573 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pasca pertumbuhan ekonomi Indonesia melandai hingga kekhawatiran pasar akibat cadangan devisa (cadev) yang diproyeksikan kembali menurun.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka di angka Rp15.550/US$ atau melemah 0,1%. Hal ini melanjutkan memutus tren penguatan yang terjadi tiga hari beruntun.

Sementara indeks dolar AS (DXY) pada pukul 08.58 WIB naik tipis 0,11% menjadi 105,33. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan kemarin (6/11/2023) yang berada di angka 105,21.



Data yang dirilis kemarin (6/11/2023) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia melandai dan untuk pertama kalinya sejak kuartal III-2021 berada di bawah 5%.

BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada periode itu tumbuh 4,94%, sedangkan secara kuartalan atau qtq tumbuh 1,60%, dan secara kumulatif atau ctc tumbuh 5,05%.

Kendati terjadi pelemahan, namun sentimen positif pertumbuhan ekonomi terhadap pergerakan rupiah terlihat dari tingkat investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang masih tumbuh tinggi, mencapai 5,77% dengan sumbangan ke PDB 29,68%, lebih tinggi dari catatan kuartal II yang tumbuh 4,63%.

Cadangan Devisa (cadev) Indonesia pun akan segera diumumkan oleh Bank Indonesia (BI) pagi hari ini dan diproyeksikan masih cukup tinggi.

Sebelumnya, data BI menunjukkan posisi cadangan devisa per akhir September 2023 mencapai US$134,9 miliar, turun dari bulan sebelumnya US$137,1 miliar.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Jumat (3/11/2023) menjelaskan penurunan cadangan devisa terjadi karena kebutuhan untuk menahan tekanan global.

“Dulu naik sampai US$139 miliar cadev saat inflow besar dan ekspor kita besar seperti itu, nah kita gunakan saat tentu saja ada tekanan-tekanan global seperti ini ya wajar itu adalah penurunan,” terangnya.

Baca Juga  Banyak Hari Libur Hingga Pilpres 14 Februari, Investor Lari Ke Mana?

Sementara Trading Economics memproyeksikan bahwa cadev Indonesia akan menurun menjadi US$133 miliar dan diperkirakan cadev tersebut dipakai salah satunya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat melemah signifikan khususnya sepanjang Oktober.

Lebih lanjut, tekanan terhadap mata uang Garuda hadir khususnya datang dari China yang akan merilis data neraca dagang serta ekspor impor.

Neraca dagang China September tercatat sebesar US$77,71 miliar dari US$82,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara konsensus memperkirakan akan terjadi kenaikan neraca dagang China menjadi US$81,95 miliar dan semakin memperpanjang tren surplusnya.

Ekspor dari China pun diproyeksikan masih rendah meski mulai ada perbaikan yakni terkontraksi 3,1% yoy dari periode sebelumnya yang kontraksi 6,2% yoy. Begitu pula dengan impor yang masih cukup rendah namun diekspektasikan lebih baik yakni kontraksi 5,4% yoy dari periode sebelumnya kontraksi 6,2% yoy.

Data ini menjadi penting dan perlu mendapat perhatian sebab China merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia. Maka dari itu, jika ekspor-impor China sudah mengalami perbaikan, maka permintaan terhadap barang dari Indonesia akan mengalami perbaikan pula hingga perekonomian Indonesia pun akan terkerek naik.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rupiah Terkena Efek The Fed, Bikin Dolar Tembus Rp 15.500

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *