Breaking! Rupiah Cetak Rekor Baru, Dolar Tembus Rp15.800

Berita, Teknologi139 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat selisih antara US Treasury dan SBN semakin menipis dan keputusan Bank Indonesia (BI) perihal suku bunga.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah dibuka di angka 15.780/US$ atau melemah 0,28% terhadap dolar AS bahkan di tengah perdagangan sempat menembus level psikologis Rp15.800/US$. Posisi ini merupakan yang terparah sejak 9 April 2020.

Sementara indeks dolar AS (DXY) pada Kamis (19/10/2023) pukul 09.04 WIB, berada di posisi 106,58 atau naik tipis 0,02% jika dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (18/10/2023) yang ditutup di angka 106,56.



Pada hari ini, Bank Indonesia (BI) akan merilis hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) perihal suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR).

Pelaku pasar mulai terbelah dalam memperkirakan suku bunga acuan BI. Mayoritas lembaga memang masih memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada bulan ini. Namun, proyeksi jika BI akan mengerek suku bunga sudah mulai muncul.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memproyeksi bank sentral RI akan menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Dari 14 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus, 13 instansi/lembaga memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility kini berada di posisi 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.

Satu lembaga memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6,0%.

Suku bunga sebesar 5,75% sudah berlaku sejak Januari tahun ini. BI mengerek suku bunga sebesar 225 bps dari 3,50% pada Juli 2022 menjadi 5,75% pada Januari tahun ini.

Baca Juga  Pj. Bupati Hani Syopiar Rustam Siap Mendukung Kinerja Pj. Gubernur Sumatera Selatan. – Portal Resmi Pemerintah Kabupaten Banyuasin

Bank Indonesia diperkirakan masih akan menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ambruknya mata uang Garuda serta derasnya capital outflow.

Nilai tukar rupiah jeblok 1,75% sepanjang Oktober ini, jauh lebih besar dibandingkan pada September 2023 yang tercatat 1,48% dan Agustus yang mencapai 1%.

Menanggapi hal tersebut, Ekonom CNBC Indonesia, Anggito Abimanyu, mengatakan BI sudah saatnya menaikkan suku bunga untuk memukul spekulan dan menegaskan kehadiran mereka di pasar keuangan Indonesia.

Menurutnya, salah satu penyebab dari melemahnya rupiah saat ini adalah banyaknya spekulan yang mengambil keuntungan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Mereka ramai-ramai menjual rupiah sehingga mata uang Garuda tertekan.

“Sebagai bank sentral BI harus berani mengambil tindakan termasuk dengan menaikkan suku bunga. Saya kira saatnya BI memukul spekulan,” ujar Anggito dalam dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Senin, 16/10/2023).

Anggito mengingatkan ekonomi Indonesia lebih menggantungkan ekonominya pada konsumsi sehingga kenaikan suku bunga sebesar 25 bps tidak akan terlalu berdampak kepada ekonomi.

Anggito mengakui BI memang sudah mengeluarkan sejumlah amunisi untuk mengangkat mata uang Garuda, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan memperbaharui aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Manusia. Namun, langkah tersebut belum cukup.

Sementara jika dilihat dari selisih antara US Treasury tenor 10 tahun dengan SBN tenor 10 tahun sudah semakin tipis. US Treasury tenor 10 tahun saat ini memiliki imbal hasil sebesar 4,902 sementara SBN tenor 10 tahun memiliki imbal hasil di angka 6,915.

Hal ini yang membuat tekanan rupiah semakin kental karena potensi capital outflow semakin besar mengingat investasi di US Treasury akan semakin menarik.

Baca Juga  PN Kota Kediri Vonis 2 Tahun 4 Terdakwa Kasus Gagal Ginjal Akut

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Rupiah Terkena Efek The Fed, Bikin Dolar Tembus Rp 15.500

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *