Bisnis Kesehatan Kian Seksi, Ini 6 Taipan Rumah Sakit RI

Berita, Teknologi627 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten rumah sakit PT Charlie Hospital Semarang Tbk. (RSCH) telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir bulan lalu. Saham RSCH pun menambah deretan saham rumah sakit di bursa.

Kini, ada 12 saham emiten RS yang tercatat dan sahamnya diperdagangkan untuk publik. Sehingga anda tidak hanya bisa berobat di sana, anda juga bisa memegang sahamnya.

Di balik emiten-emiten pengelola tersebut, di antaranya ada sejumlah konglomerat RI. Lantas siapa saja penguasa emiten RS di Indonesia?

Dato’ Sri Tahir

Pria kelahiran Surabaya pada 26 Maret 1952 ini merupakan pemilik Grup Mayapada, yang bergerak di berbagai bidang mulai dari perbankan hingga kesehatan, yakni Rumah Sakit Mayapada atau Mayapada Hospital. Ia merupakan pemegang saham pengendali dari PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) yang merupakan pengelola dari Mayapada Hospital.

Ia menggenggam sebanyak 0,02% saham SRAJ. Anaknya, Jane Dewi Tahir juga merupakan pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sebanyak 0,42%.

Mayapada Hospital merupakan salah satu rumah sakit swasta terbaik yang didirikan oleh Healthcare Group pada 1 Juni 2008 setelah mengakuisisi Honoris Hospital di kawasan hunian ekslusif Modern Land Tangerang. Sebagai bentuk komitmen untuk menyediakan pelayanan kesehatan berstandar internasional, Mayapada Hospital bekerja sama dengan Nasional Health Care Group Singapore.

Dato Sri Tahir saat ini tercatat sebagai orang terkaya keenam se-Indonesia versi Forbes. Harta Tahir dan keluarganya tercatat sebesar US$ 5,3 miliar atau setara Rp 79,28 triliun.

Martua Sitorus

Anak konglomerat Martua Sitorus, Jacqueline Sitorus merupakan pemengang saham pengendali dari PT Murni Sadar Tbk. (MTMH). Emiten tersebut merupakan pengelola Murni Sadar Hospitals yang memiliki total 6 rumah sakit yang merupakan 5 rumah sakit Murni Teguh dan 1 rumah sakit ibu anak Rosiva dengan total kapasitas 858 tempat tidur.

Baca Juga  Piala Dunia U-17 Dongkrak Pariwisata dan Ekonomi Jakarta

Martua sendiri merupakan taipan yang kaya raya dari bisnis pekebunan kelapa sawit, yang sudah memperluas gurita bisnisnya ke berbagai sektor, termasuk rumah sakit. Menurut Forbes, hartanya saat ini ditaksir sebesar US$ 3,2 miliar atau Rp 47,87 triliun.

Keluarga Boenjamin Setiawan

Konglomerat Indonesia terkaya yang memiliki jaringan bisnis rumah sakit di Indonesia adalah mendiang Boenjamin Setiawan yang lahir pada 23 September 1933 di Tegal, Jawa Tengah dan wafat 4 April 2023. Dia merupakan pendiri Rumah Sakit Mitra Keluarga, yang pertama kali berdiri pada 1989.

Pria yang akrab disapa Dr Boen ini juga mengendalikan PT Mitra Keluarga Tbk. (MIKA) yang mengoperasikan sebanyak 25 rumah sakit. Selain itu, pria yang memiliki gelar doktor di bidang farmologi ini juga pendiri perusahaan farmasi PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) pada 1966 bersama lima saudaranya.

Dr. Boen merupakan orang terkaya ke-8 di Indonesia dalam daftar Forbes tahun lalu. Adapun total kekayaannya mencapai 4,2 miliar dolar AS atau setara Rp 61,2 triliun.

Eddy Kusnadi Sariaatmadja

Konglomerat Eddy Kusnadi Sariaatmadja merupakan pemilik dari PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang mengendalikan pengelola RS Omni, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAME). Pengelola RS Omni itu memiliki 8 rumah sakit dengan kapasitas 1.454 tempat tidur, di mana 6 merupakan rumah sakit EMC dan 2 merupakan rumah sakit GRHA.

Adapun Elang Mahkota Teknologi memegang sebesar 77,30% saham SAME dan sisanya sebesar 22,70% dipegang oleh masyarakat, menurut RTI Business per 30 Juni 2023.

Sementara itu, SAME merupakan pemegang saham pengendali emiten pengelola rumah sakit lainnya, PT Kedoya Adyaraya Tbk. (RSGK), dengan kepemilikan 79,84% saham.

Berdasarkan data Forbes tahun 2022, Eddy menduduki peringkat 19 dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Harta kekayaan Eddy mencapai US$ 2,4 miliar atau sebesar Rp 35,90 triliun.

Baca Juga  Awal Pekan Investor Wait and See, Bursa Asia Dibuka Loyo

Mochtar Riady

Mertua dari Dato Sri Tahir ini juga memiliki bisnis rumah sakit. Mochtar Riady adalah pendiri Grup Lippo, dengan sejumlah perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, termasuk kesehatan.

Mochtar berbisnis rumah sakit melalui bendera Siloam Group, yang telah menjadi perusahaan terbuka PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) Pada awal mendirikan RS, dia bekerja sama dengan Gleneagles, yang merupakan perusahaan jaringan rumah sakit di Singapura, dengan membangun RS Gleneagles.

Namun setelah Gleneagles tak lagi melanjutkan kerja sama, Mochtar tetap melanjutkan bisnis rumah sakit dengan mengubah nama menjadi RS Siloam. Sampai saat ini Rumah Sakit Siloam terus berkembang dan tersebar di wilayah Indonesia.

Sementara itu, dalam daftar orang terkaya Forbes 2021, miliarder berusia 93 tahun ini berada di peringkat 23, dengan kekayaan sebesar US$ 1,7 miliar atau setara Rp 24,77 triliun.

Keluarga The Ning King

Hungkang Sutedja, anak dari taipan The Ning King, merupakan pemilik manfaat dari perseroan (ultimate beneficial owner) PT Kedoya Adyaraya Tbk. (RSGK). Emiten itu memiliki total 2 rumah sakit yakni GRHA Kedoya dan GRHA MM2100.

RSGK adalah bagian dari grup SAME, di mana emiten rumah sakit tersebut sebagai pemegang saham pengendali dengan 79,84% saham. Sementara itu, Hungkang Sutedja tercatat memegang 0,35% saham RSGK.

The Ning King sendiri merupakan taipan Indonesia yang punya banyak perusahaan yang berkutat di sektor tekstil, industri baja, properti, pertambangan, energi, dan pertanian di bawah bendera Agro Manunggal. Namanya juga masuk 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2017 versi Forbes dengan kekayaan bersih US$ 450 juta atau setara Rp 6,5 triliun.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


9 Saham Rumah Sakit Bangkit, Tapi Kok Cuannya Malah Jeblok?

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *