BI Rate Naik Jadi 6%, IHSG Langsung Terkapar 1,12%

Berita, Teknologi152 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau ambles lebih dari 1% perdagangan sesi II Kamis (19/10/2023), setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya pada hari ini.

Per pukul 15:26 WIB, IHSG ambles 1,04% ke posisi 6.856,002. IHSG pun menyentuh level psikologis 6.800 pada hari ini.

Nilai transaksi indeks pada sesi II hari ini mencapai sekitaran Rp 8,9 triliun dengan melibatkan 21 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,4 juta kali. Sebanyak 139 saham menguat, 405 saham melemah dan 206 saham stagnan.

IHSG ambles setelah BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya. BI akhirnya menaikkan suku bunga acuan pada Oktober 2023. Kini BI-7 days reverse repo rate (BI7DRRR) berada di level 6%. Suku bunga Deposit Facility juga naik menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,75%.

“Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Oktober 2023 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 0,25% menjadi 6%,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (19/10/2023).

Keputusan ini berbeda dengan proyeksi pelaku pasar yang memperkirakan bank sentral RI tersebut masih akan menahan suku bunga acuan di level 5,75%.

Polling yang dilakukan CNBC Indonesia terhadap 14 instansi/lembaga, 13 di antaranya berekspektasi bahwa BI akan menahan suku bunganya, sementara satu lembaga memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6,0%.

Adapun alasan BI menaikkan suku bunga acuannya kali ini karena untuk memperkuat stabilitas rupiah akibat mata uang Garuda tersebut terus terpuruk melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Baca Juga  4 Raja Media RI Kompak Tarung Politik, Siapa Paling Tajir?

“Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak mengingat tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah preemptive dan forward looking untuk mitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor atau imported inflation sehingga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 3 plus minus 1% pada 2023 dan 2,5 plus minus 1% pada 2024,” ujar Perry.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IHSG Punya Kans Menghijau, Syaratnya Ini Nih!

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *