BI Punya Senjata Baru, Rupiah Terbang ke Level Terbaik 8 Hari

Berita, Teknologi58 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pasca hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) serta optimisme pihak BI terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Merujuk dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,33% terhadap dolar AS di angka Rp15.240/US$ pada hari Kamis (24/8/2023).

Meskipun pada perdagangan hari ini rupiah sempat menyentuh titik terlemah Rp15.269/US$ namun akhirnya ditutup menguat dan semakin menjauhi level Rp15.300/US$. Penguatan hari ini juga memperpanjang penguatan mata uang Garuda menjadi tiga hari beruntun. Posisi penutupan hari ini juga menjadi yang terkuat sejak 11 Agustus 2023 atau dalam delapan hari perdagangan terakhir.



Penguatan rupiah hari ini ditopang keputusan BI untuk kembali memutuskan untuk menahan suku bunganya tetap di 5,75%.

Gubernur BI Perry Warjiyo usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) dalam konferensi pers, Kamis (24/8/2023) juga mengatakan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.

Hal ini sesuai dengan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memproyeksi bank sentral RI akan menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). Dari 13 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus, semuanya memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 5,75%.

“Keputusan ini konsisten dengan stand kebijakan moneter untuk memastikan inflasi tetap terkendali di 3% plus minus 1% dan 2% plus minus 1% pada 2024.” Ujar Perry.

Perry menegaskan fokus kebijakan moneter BI akan diarahkan pada penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah untuk memitigasi dampak rambatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Sementara itu, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, Perry mengatakan kebijakan makroprudensial longgar terus diarahkan untuk memperkuat efektivitas pemberian insentif likuiditas kepada perbankan guna mendorong kredit/pembiayaan dengan fokus hilirisasi, perumahan, pariwisata dan pembiayaan inklusif dan hijau.

Baca Juga  Sampoerna Buka Dua Pabrik Kretek Baru, Investasi Rp 638 M

Perry meyakini bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia, inflasi yang rendah, dan imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik.

Selain itu, menurutnya, BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valas, efektivitas implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA sejalan dengan PP Nomor 36 Tahun 2023, serta penerbitan instrumen operasi moneter (OM) yang pro-market untuk mendukung pendalaman pasar uang dan mendorong masuknya aliran portofolio asing.

Di samping optimisme dari BI, namun situasi perekonomian global masih dipenuhi ketidakpastian, khususnya pada pasar keuangan yang disebabkan oleh kemungkinan masih akan adanya kenaikan suku bunga acuan oleh negara maju seperti AS.

Menurut Perry, kenaikan suku bunga acuan dipicu oleh masih tingginya inflasi. Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan naik sebanyak 1-2 kali hingga akhir tahun.

“Kondisi ini mendorong kenaikan suku bunga di negara maju termasuk kemungkinan kembali naiknya suku bunga AS,” jelasnya.

Sebagai catatan, The Fed pada bulan lalu telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke posisi 5,25% – 5,50%. Dengan kenaikan 1-2 kali lagi, maka suku bunga AS akan setara dengan Indonesia apabila levelnya tetap.

Hal ini akan mendorong gejolak pada pasar keuangan, sehingga aliran modal akan keluar dari negara berkembang seperti Indonesia. Dolar AS diperkirakan juga akan tetap kuat.

“Tekanan nilai tukar di negara berkembang meningkat sehingga perlu penguatan respon untuk mitigasi rambatan glolab tersebut termasuk di Indonesia,” tegas Perry.

BI Punya Senjata Baru

BI hari ini juga mengumumkan akan menerbitkan instrumen operasi moneter kontraksi, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Baca Juga  Janji Anies-Imin Buat Industri Keuangan, Ada Basmi Pinjol

Instrumen ini adalah instrumen pro-market dalam rangka memperkuat upaya pendalaman pasar uang, mendukung upaya menarik aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portofolio, serta untuk optimalisasi aset SBN yang dimiliki Bank Indonesia sebagai underlying.

Perry mengungkapkan instrumen ini disebut sekuritas karena ini sekuritisasi dari SBN yang dimiliki BI.

“BI punya SBN lebih dari Rp 1.000 triliun, kita sekuritisasi kita jadikan underlying, kita terbitkan SRBI ini dengan tenor jangka pendek sampai dengan 12 bulan. Yang mau kita terbitkan yang mana 6, 9 dan 12,” kata Perry dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (24/8/2023).

 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rupiah Menguat ke Rp 14.750/USD, Efek Investor “Buang” Dolar?

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *