Banyak Kasus Perbankan, Bank Mega Syariah Peringatkan Hal Ini

Berita, Teknologi662 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Kejahatan keuangan di sektor perbankan menjadi salah satu tantangan bagi industri. PT Bank Mega Syariah (BMS) terus mendorong literasi keuangan agar masyrakat terhindar dari risiko tersebut.

Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Ratna Wahyuni mengimbau kepada nasabah agar berhati-hati dengan penipuan yang kerap terjadi dengan mengatasnamakan Bank Mega Syariah. Salah satunya penipuan yang menggunakan social engineering.

Social engineering fraud adalah tindak kejahatan perbankan yang memanipulasi psikologis korban untuk membocorkan data pribadi dan data perbankan yang bersifat rahasia.

“Bank Mega Syariah tidak pernah meminta data pribadi atau informasi perbankan melalui pesan atau panggilan telepon. Untuk menghindari penipuan, pastikan selalu memverifikasi setiap komunikasi yang Anda terima dari sumber resmi bank, dan jangan pernah memberikan informasi rahasia kepada pihak yang tidak terpercaya,” pesan Ratna, dalam keterangan resminya, pada Rabu, (11/10/2023).

Ia menambahkan, kurangnya tingkat pemahaman masyarakat terkait berbagai produk dan layanan jasa keuangan membuat masyarakat rentan menjadi korban kejahatan keuangan. Terutama di era digital seperti saat ini, para pelaku kejahatan memiliki beragam modus operandi yang semakin canggih.

“Kami percaya bahwa peningkatan literasi keuangan menjadi kunci dalam melindungi masyarakat dari risiko kejahatan keuangan yang semakin beragam,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Bank Mega Syariah mengadakan kegiatan literasi kepada 127 siswa-siswi dari SMK Bina Mandiri, dan SMK Bakti Mandiri, Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (10/10/2023). Materi literasi keuangan yang disampaikan diantaranya mengenai pemahaman keuangan pribadi, pengelolaan keuangan, hingga mitigasi risiko kejahatan perbankan.

Acara ini juga merupakan langkah perseroan dalam menyambut bulan inklusi keuangan. Kegiatan bertema “Literasi Untuk Negeri” ini rutin dilakukan dengan frekuensi enam kali dalam setahun.

Baca Juga  Emiten Tommy Soeharto (HUMI) Tambah Kapal Baru, Buat Apa?

Sebagai informasi, Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68%. Hal ini menunjukkan masih banyak masyarakat Indonesia yang pengetahuan tentang sektor keuangannya rendah.

Sepanjang tahun ini, Otoritas Jasa Keuangan telah menyelesaikan 17 berkas perkara penyidikan atas kasus kejahatan keuangan. Kebanyakan perkara tersebut berasal dari sektor perbankan.

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara merinci, ketujuh belas perkara tersebut terdiri dari 4 perkara Industri Keuangan Non Bank (IKNB) dan 13 perkara perbankan.

Sementara pada Oktober ini, penyidik OJK tengah menangani 26 perkara. Dari perkara tersebut, ada yang masih di tahap telaah hingga penyidikan. Rinciannya, sebanyak 14 perkara berasal dari perbankan, 4 perkara dari pasar modal, dan 8 perkara IKNB.

 

 

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


BI Ramal Penyaluran Kredit Juni 2023 Bakal Melonjak

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *