Awas Kaget! Rupiah Diramal Bakal Jadi Segini

Berita, Teknologi592 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Selasa (7/11/2023). Rupiah kembali ke posisi kisaran Rp 15.600/US$ setelah awal pekan ini mampu menguat di kisaran atas Rp 15.500/US$.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah kembali ke level psikologis Rp15.600/US$ atau melemah 0,42% dan bahkan menyentuh titik terlemahnya yakni Rp15.628/US$. Hal ini berkebalikan dengan penutupan perdagangan kemarin yang menguat 1,21% ke level Rp 15.535.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, rupiah memang berpotensi bergerak ke level Rp 15.600/US$ karena pengaruh tekanan eksternal. Ia menjelaskan, kurs dolar hari ini menguat terhadap mata uang G-10 didorong imbal hasil US Treasury yang lebih tinggi.

“Yield UST naik seiring meningkatnya pasokan obligasi yang berasal dari penerbitan obligasi korporasi. Trader juga masih mengevaluasi masa depan kebijakan moneter di tengah penerbitan obligasi baru,” ucap Josua dikutip dari keterangannya, Selasa (7/11/2023).

Ia juga mengingatkan, meskipun The Fed kemungkinan telah menyelesaikan kenaikan suku bunganya, suku bunga diperkirakan akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama. Departemen Keuangan AS pun telah memulai penerbitan utang baru dalam jumlah besar melalui serangkaian tiga lelang yang dimulai pada Selasa.

Kondisi ini membuat Index Dolar (DXY) naik 0,18% menjadi 105,22, sedangkan yield UST naik 7 basis points (bps). The Fed puk menurutnya telah mengumumkan bahwa sektor perbankan AS melaporkan standar pinjaman yang ketat dan permintaan pinjaman yang lebih lemah pada kuartal III-2023, meskipun masih sedikit membaik dibandingkan kuartal II-2023.

“Hal ini menunjukkan bahwa pengetatan kebijakan moneter dari The Fed telah mempengaruhi sektor kredit di Amerika. Pasar saham AS masih ditutup menguat di tengah aksi jual di pasar obligasi. DJIA, S&P500, dan NASDAQ ditutup menguat masing-masing sebesar 0,10%, 0,18%, dan 0,30%,” ucapnya.

Baca Juga  Top! IHSG Naik 1%, Balik ke Level 7.000

Dari sisi domestik, Josua melanjutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pun melemah pada kuartal III-2023 menjadi 4,94% yoy, melambat dari pertumbuhan pada kuartal II-2023 yang sebesar 5,17% yoy. Pendorong utama melambatnya pertumbuhan pun menurut Josua berasal dari belanja pemerintah yang mengalami kontraksi sebesar 3,76% yoy.

“USD/IDR diperkirakan akan berada di rentang 15.500-15.600,” tutur Josua.

Meski hari ini rupiah mengalami tekanan, Myrdal meyakini pergerakannya masih berpotensi positif atau tak akan melemah kembali ke level Rp 15.700. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan bergerak di level Rp 15.400-Rp 15.650 ditopang aliran modal asing yang masih kuat masuk RI.

“Untuk USD/IDR masih positif trennya karena investor asing masih akan masuk di pasar saham dan obligasi negara. Proyeksi hari ini USD/IDR: 15.400-15.650,” tegas Myrdal.

Data Bank Indonesia (BI) berdasarkan transaksi 30 Oktober-2 November 2023, investor asing mencatat net buy sebesar Rp4,07 triliun di pasar SBN, jual neto Rp2,84 triliun di pasar saham, dan Rp1,61 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Dengan kata lain total capital inflow sebesar Rp2,83 triliun.

Capital inflow tercatat cukup baik sejak pekan ke-4 Oktober. Pada data transaksi 23-26 Oktober 2023, total capital inflow sebesar Rp1,04 triliun didominasi oleh net buy SBN Rp2,18 triliun.

Sebagai informasi, rupiah ditutup di angka Rp15.625/US$ atau melemah 0,58% hari ini. Hal ini memutus tren penguatan yang terjadi tiga hari beruntun. Sementara indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB naik tipis 0,28% menjadi 105,51. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan kemarin (6/11/2023) yang berada di angka 105,21.

Pagi tadi Bank Indonesia (BI) telah merilis data cadev yang hampir sesuai dengan proyeksi pasar. Posisi cadev Indonesia pada akhir Oktober 2023 tetap tinggi sebesar US$133,1 miliar, menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir September 2023 sebesar US$134,9 miliar.

Baca Juga  Britney Spears Pernah Aborsi Anak Justin Timberlake

Penurunan posisi cadev tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai langkah antisipasi dampak rambatan sehubungan dengan semakin meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Mengukur Ketahanan Rupiah Terhadap Dolar AS

(mij/mij)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *